Bisnis Jasa Kontraktor Pertambangan Moncer di Kuartal I/2019

Bisnis kontraktor pertambangan batu bara yang dijalankan sejumlah emiten masih tumbuh pada kuartal I/2019 di tengah bayang-bayang penurunan harga komoditas tersebut di pasar global.
M. Nurhadi Pratomo | 23 April 2019 10:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis kontraktor pertambangan batu bara yang dijalankan sejumlah emiten masih tumbuh pada kuartal I/2019 di tengah bayang-bayang penurunan harga komoditas tersebut di pasar global.

Kondisi itu tercermin dari realisasi volume pekerjaan penguapasan lapisan penutup batu bara atau overburden removal (OB) sejumlah emiten tercatat masih tumbuh secara tahunan pada kuartal I/2019. PT United Tractors Tbk. misalnya yang menggarap bisnis kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA). 

Pada kuartal I/2019, United Tractors melaporkan volume OB batu bara sebanyak 234,6 juta bank cubic meter (bcm). Realisasi itu tumbuh 13,27% dari 207,1 juta bcm per kuartal I/2018. Adapun, total produksi batu bara PAMA sebanyak 30,5 juta ton sepanjang Januari 2019—Maret 2019. Jumlah itu naik 14,23% dari 26,7 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, entitas anak PT Indika Energy Tbk., PT Petrosea Tbk., melaporkan volume OB 28,6 juta bcm per kuartal I/2019. Perseroan mengklaim realisasi itu lebih baik dari kuartal I/2018.

Di sisi lain, PT Samindo Resources Tbk. juga melaporkan volume OB 12,8 juta bcm pada kuartal I/2019. Realisasi itu naik 0,79% dari 12,7 juta bcm pada kuartal I/2018.

Investor Relations Manager Samindo Resources Ahmad Zaki Natsir menjelaskan bahwa produksi batu bara perseroan naik 48,8% secara tahunan menjadi 3,1 juta ton per Maret 2019. Pertumbuhan itu sejalan dengan tambahan yang didapatkan dari unit subkontraktor perseroan.

Secara umum, Ahmad menyebut target batu bara pada 2019 kurang lebih sama dengan 2018. Untuk volume OB, pihaknya menyebut capaian ditopang oleh curah hujan yang lebih rendah. “Untuk volume OB, pada Februari 2019 curah hujan agak sedikit rendah, jadi aktivitas operasional bisa lebih maksimal,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (22/4).

Manajemen emiten berkode saham MYOH itu sebelumnya menyatakan akan mempertahankan perbaikan atas cara kerja yang sebelumnya kurang efektif. Perseroan menyebut terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar hasil kerja maksimal dan dilakukan penambahan dump truck sebanyak 10 unit.

Sebagai catatan, MYOH melaporkan pendapatan US$241,11 juta juta pada 2018. Realisasi itu naik 28,2% dari US$188,07 juta pada 2017.  Dari situ, perseroan membukukan laba tahun berjalan US$30,92 juta pada tahun lalu. Nilai tersebut tumbuh 151,3% dari US$12,30 juta pada 2017.

Di sisi lain, Presiden Direktur Petrosea Hanifa Indradjaya mengungkapkan realisasi operasional pada kuartal I setiap tahun biasanya lebih rendah dari kuartal selanjutnya. Kondisi itu akibat curah hujan yang terbilang tinggi. “Kuartal I relatif lower, [akan tetapi] kalau dibandingkan, realisasi kuartal I/2019 lebih baik dari tahun lalu,” jelasnya.

Pada 2019, emiten berkode saham PTRO itu menargetkan volume OB 137 juta bcm. Target itu naik 13,05% dari realisasi 121,18 juga bcm pada 2018. Dari realisasi 121,18 juta bcm, sektor kontraktor pertambangan PTRO membukukan pendapatan US$264,52 juta pada 2018. Pencapaian itu tumbuh 54% dari US$171,27 juta pada 2017.

Adapun, perseroan tercatat memiliki nilai kontrak ditangan atau backlog US$919,60 juta pada 2018. Jumlah tersebut naik 32,1% dari US$696,20 juta pada 2017.

Di sisi lain, Investor Relations United Tractors Ari Setiyawan menjelaskan bahwa realisasi PAMA pada kuartal I/2019 ditopang oleh kondisi cuaca yang lebih baik dari tahun lalu. Dengan demikian, entitas anak itu masih bisa merealisasikan pertumbuhan volume OB di kisaran 13%—14%.

Untuk 2019, Ari mengatakan proyeksi perseroan untuk bisnis kontraktor pertambangan kurang lebih sama dengan tahun lalu. Menurutnya, emiten berkode saham UNTR itu membidik produksi batu bara sekitar 127 juta ton dan volume OB sekitar 980 juta bcm.

Saat ini, sambungnya, PAMA memiliki sekitar 15 proyek yang yang dikerjakan. Produsen batu bara yang menjadi klien di antaranya PT Adaro Energy Tbk. dan PT Bukit Asam Tbk.

Seperti diketahui, PAMA merealisasikan volume produksi batu bara 125,1 juta ton pada 2018. Sementara itu, volume pekerjaan overburden removal meningkat dari 800,8 juta bcm pada 2017 menjadi 979,4 juta bcm pada tahun lalu. Adapun, PAMA membukukan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 37% secara tahunan menjadi Rp40,6 triliun pada 2018. 

Di lain pihak, Direktur Keuangan Delta Dunia Makmur Eddy Porwanto mengklaim volume OB pada kuartal I/2019 masih tumbuh dibandingkan dengan kuartal I/2018. Pencapain itu sejalan dengan pertumbuhan kapasitas dan realisasi kontrak baru.

Sebagai catatan, volume OB yang digarap perseroan sebanyak 62,1 juta BCM sepanjang Januari 2019—Februari 2019. Realisasi tersebut tumbuh 22,49% dari 50,7 juta BCM pada periode yang sama tahun lalu.

Total produksi batu bara emiten berkode saham DOID itu mencapai 3,9 juta ton per Februari 2019. Jumlah itu naik 25,81% dari 3,1 juta ton pada Februari 2018.

Secara keseluruhan, produksi batu bara perseroan sebesar 8,1 juta ton pada Januari 2019—Februari 2019. Pencapaian itu naik 28,57% dari 6,3 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
united tractors, emiten tambang, kinerja emiten, petrosea tbk

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup