Performa Emiten Batu Bara Meredup

Laba bersih sejumlah emiten batu bara sepanjang 2018 tertekan, dipicu oleh peningkatan biaya bahan bakar minyak.
M. Nurhadi Pratomo | 29 Maret 2019 14:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Laba bersih sejumlah emiten batu bara sepanjang 2018 tertekan, dipicu oleh peningkatan biaya bahan bakar minyak.

Kinerja emiten batu bara diangkat menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (29/3/2019). Berikut laporannya.

Berdasarkan data laporan keuangan yang diolah Bisnis, lima dari delapan emiten batu bara mengalami koreksi laba bersih sepanjang 2018. Adapun, sisanya mencatatkan perlambatan pertumbuhan laba bersih.  

Dari sisi pendapatan, tujuh emiten mencatatkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hanya PT Bumi Resources Tbk. yang membukukan lonjakan pertumbuhan pendapatan.

Peningkatan biaya bahan bakar minyak (BBM) dialami oleh hampir semua emiten ‘emas hitam’, sehingga memengaruhi beban pokok pendapatan.

PT Adaro Energy Tbk. misalnya, mencatat kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 14% pada tahun lalu. Peningkatan beban itu disebabkan oleh kenaikan biaya BBM sebesar 40%. Di sisi lain, dari segi volume, konsumsi BBM hanya mengalami peningkatan sebesar 15%. ­

Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Tbk. Febriati Nadira mengatakan perseroan akan melakukan efisiensi di seluruh rantai bisnis untuk menghasilkan kinerja yang solid.

Pada tahun lalu, lanjutnya, perseroan melakukan lindung nilai (hedging) terhadap sekitar 20% kebutuhan BBM untuk mengelola risiko fluktuasi harga.

“Kami akan melakukan hedging bahan bakar pada tahun ini, tetapi tentunya menyeseuaikan dengan kebutuhan,” katanya, Kamis (28/3).

Bonifasius, Presiden Direktur PT Golden Energy Mines Tbk., juga membenarkan terjadinya peningkatan biaya operasional perseroan pada tahun lalu akibat kenaik­an harga BBM.

Kenaikan beban BBM itu menggerus laba bersih emiten berkode saham GEMS sebesar 16,10% pada tahun lalu. Padahal, ujar Bonifasius, perseroan telah mengerek produksi untuk meningkatkan pendapatan. “ Manage product­ivity dan cost efficiency dalam keadaan market price yang kami prediksi kurang baik,” tuturnya.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, menjelaskan bahwa pendapatan kotor perseroan pada tahun lalu terkena dampak negatif dari penerapan pembatasan harga jual kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

“Harga dibatasi maksimal US$70 per ton. Sebagai catatan, tidak ada pembatasan harga untuk penjualan kepada PLN pada 2017,” ujarnya.

DIVERSIFIKASI BISNIS

Robertus Yanuar Hardy, analis Kresna Sekuritas, memproyeksikan industri batu bara akan menjadi seperti komoditas lainnya, misalnya mineral.

Artinya, konsumsi batu bara ke depan lebih didorong untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dibandingkan dengan ekspor dalam bentuk barang mentah.

“Ke depan, pengembangan hilir batu batu bara akan menjadi faktor penentu kinerja emiten di industri ini. Produknya bisa listrik, bahan kimia, atau gasifikasi.”

Apabila hanya mengharapkan pasar ekspor, sambungnya, industri batu bara akan sulit berkembang. Apalagi, ongkos logistik untuk barang mentah jauh lebih tinggi, tetapi memiliki nilai tambah rendah.

Saat ini, Robertus menilai PT Bukit Asam Tbk. masih menjadi yang terdepan dalam inisiatif pengembangan penghiliran. Pada bulan lalu, perseroan membentuk perusahaan patungan untuk rencana penghiliran mulut tambang Bukit Asam di Peranap, Riau.

Bumi Resources juga berencana membangun pabrik petrokimia yang nantinya akan memproduksi methanol dan bahan bakar diesel. Perseroan tengah melakukan studi kelayakan terhadap pabrik tersebut.

Saat produsen batu bara menghadapi tekanan kinerja, kontraktor jasa pertambangan masih membukukan pertumbuhan kinerja dua digit pada 2018.

Ahmad Zaki Natsir, Investor Relations Manager PT Samindo Resources Tbk., optimistis kinerja tetap tumbuh pada tahun ini. Hal ini sejalan dengan rencana China menahan level produksinya untuk menjaga harga jual batu bara.

Pendapat berbeda disampaikan analis Artha Sekuritas Juan Harahap yang memproyeksikan kinerja kontraktor tambang batu bara akan stagnan pada tahun ini akibat menurunnya aktivitas tambang batu bara karena ekspektasi harga jual yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top