Satu Komisaris & Direksi Antam Menyelesaikan Masa Tugas

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mengumumkan Dewan Komisaris Antam Robert A. Simanjuntak dan Direktur Operasi Antam Hari Widjajanto telag menyelesaikan masa jabatan periode pertama sesuai POJK No.33/2014.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  23:38 WIB
Satu Komisaris & Direksi Antam Menyelesaikan Masa Tugas
Petugas melayani pembelian emas logam mulia di Gedung Aneka Tambang, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Antara/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA—PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mengumumkan Dewan Komisaris Antam Robert A. Simanjuntak dan Direktur Operasi Antam Hari Widjajanto telah menyelesaikan masa jabatan periode pertama sesuai POJK No.33/2014.

Dalam rilisnya, Jumat (29/3/2019), manajemen Antam menuliskan bahwa mengacu kepada anggaran dasar perseroan, jabatan direksi dan komisaris ditetapkan 5 tahun sejak putusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) penganggkatan jabatan.

Robert dan Hari secara resmi diberikan jabatan pada 26 Maret 2014. Dengan demikian, masa jabatan keduanya resmi berakhir pada 26 Maret 2019.

“Perseroan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Robert dan Bapak Hari atas dedikasi serta kontribusinya selama masa tugas 5 tahun,” papar manajemen.

Untuk menjaga stabilitas operasi, maka dewan komisaris Antam wajib menunjuk salah seorang direksi Antam lainnya untuk menjalankan fungsi sebagai Direktur Operasi sementara. Posisi ini terbilang strategis seiring dengan upaya perseroan memacu proyek penghiliran mineral.

Sebelumnya, Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo menyampaikan, dalam jangka panjang perseroan menyiapkan tiga proyek penghiliran dengan nilai investasi US$2,2 miliar. Hal ini bertujuan menunjang strategi bisnis Antam yang tidak lagi menjual bijih mineral pada awal 2022.

Perinciannya ialah proyek nikel di Pulau Gag, Raja Ampat, Papua Barat senilai US$1 miliar  dengan kapasitas 40.000 ton per tahun. Pada 2018, anak usaha yang dimiliki Antam 100% memproduksi bijih nikel dengan volume 1 juta ton, yang kemudian dijual ke smelter di Morowali, Sulawesi Tengah.

Ke depannya, perseroan akan mengembangkan pabrik stainless steel berkapasitas 0,5 juta ton per tahun. Pendanaannya bisa dari pinjaman dan divestasi saham anak perusahaan, sehingga ekuitasnya dapat disetor ke perusahaan stainless steel.

“Sekarang kan anak usaha yang minning 100%, itu akan kami divestasi sebagian sahamnya, untuk dapat dana yang disetorkan ke perusahaan baja. Tapi kami tetap mayoritas di anak usaha minning itu,” tuturnya.

Untuk menggarap proyek stainless steel, perusahaan akan bekerja sama dengan patner asing. Saat ini, proses pembentukan joint venture sudah mengerucut ke 3 calon perusahaan.

Adapun, proyek kedua ialah Nickel Pig Iron (NPI) Blast Furnace di Haltim dengan investasi US$350 juta.Dalam proyek ini, Antam menggandeng Ocean Energy Nickel International Pte. Ltd (OENI). Kedua perusahaan sudah menandatangani Head of Agreement (HoA) pada 11 Oktober 2018.

Proyek ketiga ialah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi US$850 juta. Pada awal 2019, diharapkan produksi dapat dimulai dengan kapasitas 1 juta ton alumina berbahan dasar bauksit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
antam

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top