Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Awal Tahun, Pasar Modal 2019 Lebih Kondusif

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai kondisi pasar modal pada awal tahun ini telah jauh lebih kondusif ketimbang periode yang sama pada tahun lalu.
Pengunjung mengambil foto monitor perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (1/2/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan
Pengunjung mengambil foto monitor perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (1/2/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai kondisi pasar modal pada awal tahun ini telah jauh lebih kondusif ketimbang periode yang sama pada tahun lalu.

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja menyampaikan, positifnya kinerja pasar modal pada 2 bulan pertama tahun ini memang mirip dengan yang terjadi pada Januari—Februari 2018.

Perbedaannya, pemicu yang menyebabkan pasar modal tertekan hingga akhir tahun pada Maret 2018 lalu dinilai Freddy kini sudah tak ada lagi. “Kondisi (saat ini) sudah sangat berbeda, sangat berubah, jauh lebih kondusif,” katanya melalui keterangan resmi pada Selasa (19/3/2019).

Kendati penguatan pasar saham maupun pasar obligasi hingga akhir tahun ini belum dapat dipastikan, Freddy mengungkapkan bahwa investor dapat mencermati perbedaan dan persamaan dua bulan pertama pada tahun ini dan tahun lalu.

Pertama, 2018 dibuka dengan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi global akan terus menguat. Ekspektasi yang sangat tinggi pun membuat kekecewaan dalam porsi kecil membuat pasar bergejolak.

Hal berbeda justru terjadi pada awal tahun ini, di mana ekspektasi untuk pertumbuhan ekonomi global telah rendah. Sejumlah institusi internasional bahkan berkali-kali memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan tahun depan. Dengan demikian, kejutan positif yang kecil saja diharapkan bisa menopang pasar keuangan pada saat ini.

Kedua, pada Maret tahun lalu ekonomi global dikejutkan oleh pecahnya perang dagang antara AS dan China. Namun, pada Maret 2019 justru kedua negara tampak berupaya mencari jalan keluar dari perselisihan dagang tersebut.

Ketiga, sisi moneter, tahun lalu Bank Sentral AS (Federal Reserve) bergerak sangat agresif menaikkan suku bunga hingga 4 kali. Hal itu memicu bank sentral di negara lain, termasuk Indonesia, ikut menaikkan suku bunga untuk menjaga nilai tukar.

Namun, tahun ini The Fed diperkirakan hanya bakal mengangkat suku bunga acuan sebanyak 1—2 kali lagi. Bank Indonesia pun kini tidak akan tertekan lagi untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini mengingat mata uang rupiah juga telah kian stabil.

Keempat, pada tahun lalu valuasi aset di Asia dan Indonesia telah berada di level premium di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi global. Keduanya pun cenderung lebih mahal di atas rata-rata lima tahunnya.

Kini, valuasi pasar saham Asia dan Indonesia berada pada level yang lebih wajar setelah mengalami penurunan sepanjang akhir tahun lalu.

Terakhir, kondisi pada 2017 yang membuat IHSG naik hampir 20% membuat investor asing leluasa keluar dari Indonesia pada awal 2018 (profit taking) di tengah bayang-bayang perang dagang AS—China.

Namun saat ini, seiring dengan arah perundingan dagang AS—China dan kebijakan moneter yang tak lagi seketat tahun lalu, begitu pula stabilitas nilai tukar di Asia dan Indonesia, arah arus modal asing justru berbalik masuk (inflow).

“Tahun ini, trennya adalah investor asing masuk kembali ke emerging market, ke Asia, termasuk juga ke Indonesia,” ungkap Freddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper