Bursa Asia Menguat, IHSG Masih Tertekan

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG melemah 0,19% atau 12,53 poin ke level 6.528,42 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  13:16 WIB
Bursa Asia Menguat, IHSG Masih Tertekan
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan di zona merah hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (27/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG melemah 0,19% atau 12,53 poin ke level 6.528,42 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, indeks dibuka melemah 0,14% atau 8,91 poin di level 6.532,04. Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak di level 6.521,27 – 6.539,28.

IHSG sebelumnya ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,24% atau 15,59 poin di level 6.540,95 pada perdagangan Selasa (26/2).

Sebanyak 181 saham menguat, 207 saham melemah, dan 240 saham stagnan dari 628 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang masing-masing melemah 1,52% dan 1,65% menjadi penekan utama pergerakan IHSG siang ini.

Sementara itu, enam dari sembilan sektor menetap di zona merah, didorong sektor pertanian yang melemah 0,85% dan aneka industri yang turun 0,73%.

Di sisi lain, tiga sektor menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut di sesi I, dipimpin oleh sektor properti yang menguat 0,56%.

IHSG melemah di saat mayoritas indeks saham lainnya di kawasan Asia mayoritas menguat siang ini. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing naik 0,23% dan 0,51%, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,71%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,34%.

Sementara itu, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing menguat 1,4% dan 0,96%.

Dilansir Reuters, bursa Asia menguat menuju level tertinggi lima bulan pada hari Rabu setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell memperkuat pergeseran sikap bank sentral AS baru-baru ini ke arah pendekatan yang lebih "sabar".

"Ada ketakutan di pasar bahwa sentimen sedikit terbawa pada sisi positif, terutama mengingat pengalaman pada Oktober dan Desember, ketika ada koreksi yang sangat tajam," kata Nick Twidale,chief operating officer Rakuten Securities Australia, seperti diuktip Reuters.

Dalam dua jam kesaksian kepada Komite Perbankan Senat, Powell mengatakan kepada bahwa The Fed tidak terburu-buru untuk membuat penilaian tentang perubahan lebih lanjut pada suku bunga.

Powell menguraikan "sinyal yang saling bertentangan" yang telah diuraikan oleh The Fed dalam beberapa pekan terakhir, termasuk data penjualan ritel yang mengecewakan dan aspek-aspek ekonomi lainnya yang kontras dengan lapangan kerja yang stabil, pertumbuhan upah, dan pengangguran rendah yang sedang berlangsung.

Lebih banyak bukti dari gejolak ekonomi yang dipaparkan dalam pidatonya, termasuk data perumahan AS yang lebih lemah dari yang diperkirakan dan laporan kepercayaan konsumen yang cerah.

Data pembangunan rumah AS jatuh ke level terendah lebih dari dua tahun pada Desember karena konstruksi perumahan keluarga tunggal menurun, yang membayangi pemulihan kepercayaan konsumen pada Februari setelah tiga bulan mengalami penurunan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top