Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sejak November 2018, Ini Pemicunya

Harga minyak dunia menyentuh level tertingginya sejak pertengahan November 2018 pada pekan lalu (22/2). Sekaligus membukukan kenaikan mingguan untuk kedua berturut-turut.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  15:48 WIB
Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sejak November 2018, Ini Pemicunya
Harga minyak dunia sentuh level tertingginya. - ilustrasi/JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia menyentuh level tertingginya sejak pertengahan November 2018 pada pekan lalu (22/2). Sekaligus membukukan kenaikan mingguan untuk kedua berturut-turut.

Performa apik tersebut didorong oleh sentimen positif pembicaraan perdagangan Amerika Serikat dan China akan segera menghasilkan kesepakatan. Meskipun, dibayang-bayangi rekor baru baru pasokan minyak AS.

Mengutip dari Reuters, Minggu (24/2), harga minyak mentah berjangka Brent sempat mencapai US$67,73 per barel, tertinggi pada tahun ini, pada pekan lalu. Namun, harga minyak acuan itu turun 5 sen menjadi US$67,12 per barel. Dalam sepekan, Brent sudah naik 1,2%.

Sementara harga  minyak jenis West Texas Intermediate naik 30 sen menjadi US$57,26 per barel, usai mencapai US$57,81 per barel. Level tertinggi untuk tahun ini. Adapun selama sepekan, harga WTI mencatatkan kenaikan 3%.

Mengenai perudingan dagang AS-China, para pejabat tinggi kedua negara telah bertemu pada Jumat (22/2) untuk mengakhiri satu pekan pembicaraan. Kedua belah pihak selanjutnya berjuang guna mencapai kesepakatan pada batas waktu 1 Maret mendatang.

Presiden Lipow Oil Associates di Houston, AS, Andy Lipow mengatakan, harga minyak dan juga pasar saham telah naik untuk mengantisipasi bahwa China dan AS akan mencapai kata sepakat dalam perundingan dagang.

“Selain itu, kami melihat ada pengetatan pasokan minyak dari seluruh dunia yang dihasilkan dari pengurangan produksi OPEC [Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi] dan non-OPEC,” katanya dikutip dari Reuters.

Sejauh ini, kedua tolak ukur acuan harga minyak dunia telah melesat pada tahun ini, usai OPEC dan sekutu-sekutunya termasuk Rusia memangkas produksinya demi mencegah pasokan global berlimpah.

Namun, lonjakan produksi minyak mentah AS selama ini, sebagian telah mengimbangi pemotongan tersebut.

Produksi minyak mentah AS pekan lalu naik ke rekor 12 juta barel per hari karena stok disiapkan untuk minggu kelima berturut-turut, ke level tertinggi sejak Oktober 2017.

Selain itu, ekspor minyak mentah AS juga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Demikian menurut laporan Energy Information Administration [EIA], minggu lalu.

“Kami melihat total produksi minyak mentah AS mencapai 13 juta per barel pada akhir tahun, dengan rata-rata 12,5 juta barel per hari,” tulis Citibank setelah EIA meliris laporannya.

Akan tetapi, firma jasa energi Baker Hughes melaporkan, perusahaan-perushaan energi AS telah mengurangi empat rig minyak yang beroperasi pada pekan lalu, setelah tiga pekan menambah tiga peralatan bor minyak tersebut.

Sementara itu, persediaan minyak mentah di Texas Barat turun ke level terendah dalam 4 bulan, usai pipa tambahan mulai mengangkut minyak mentah dari ladang serpih terbesar AS ke Gulf Coast. Sebagian besar untuk ekspor. Penyedia data pasar Greenscape menunjukkan hal tersebut.

Dengan melonjaknya pasokan AS, Goldman Sachs pmemperkirakan, suplai non-OPEC akan tumbuh sebesar 1,9 juta barel per hari pada tahun ini. Lebih dari mengimbangi potongan OPEC.

Artinya harga minyak banyak tergatung pada permintaan, yang menurut Goldman diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,4 juta barel per hari pada tahun ini. Bank investasi global tersebut pun memproyeksikan harga rata-rata Brent di kisaran US$60-US$65 per barel pada tahun ini dan tahun depan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, perang dagang AS vs China

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top