MNC Sekuritas: Perubahan Harga SUN Cenderung Beragam

MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Jumat (22/2/2019) harga Surat Utang Negara di pasar sekunder masih akan bergerak dengan arah perubahan yang beragam.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  09:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Jumat (22/2/2019) harga Surat Utang Negara di pasar sekunder masih akan bergerak dengan arah perubahan yang beragam.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa arah perubahan akan beragam di tengah arah pergerakan nilai tukar rupiah dan respon terhadap rilisnya suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 6,00% serta hasil FOMC Minutes yang menunjukan para pembuat kebijakan di The Fed terlihat cenderung dovish.

Hal ini membuat para pelaku pasar untuk melakukan aksi wait and see terlebih dahulu.

"Dengan pertimbangan beberapa faktor di atas kami masih menyarankan kepada investor untuk mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah yang memberikan tingkat imbal hasil yang menarik dengan tingkat risiko yang moderat di tengah masih bergejolaknya pasar Surat Utang Negara," katanya dalam riset harian, Jumat (22/2/2019).

Beberapa seri pilihan yang dapat dicermati oleh investor adalah seri - seri FR0069, FR0053, FR0070, FR0056, FR0071, FR0077 dan FR0079.

Review (Kamis, 21 Februari 2019)

Pada perdagangan hari Kamis, 21 Februari 2019 harga Surat Utang Negara kembali bergerak dengan perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami koreksi di tengah perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang cenderung melemah selama sesi perdagangan kemarin.

Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi hingga sebesar 40 bps yang berdampak terhadap adanya perubahan tingkat imbal hasil rata - rata mengalami kenaikan sebesar 0,1 bps.

Adapun Surat Utang Negara dengan seri acuan bertenor 10 dan 20 tahun, keduanya mengalami perubahan harga dengan kecenderungan mengalami koreksi dikisaran 30 bps yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 5,6 bps di level 7,934% dan 3,3 bps di level 8,305%.

Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami penurunan harga sebesar 16 bps yang berdampak kepada kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 3,8 bps di level 7,734%.

Surat Utang Negara dengan tenor 15 tahun juga ikut mengalami koreksi harga sebesar 41 bps yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkat imbal hasil yang mengalami kenaikan sebesar 4,7 bps di level 8,228%.

Pada perdagangan hari Kamis, tanggal 21 Februari 2019 pergerakan harga Surat Utang Negara bergerak dengan mengalami perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami koreksi ditengah faktor perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang mengalami pelemahan selama sesi perdagangan.

Faktor pelemahan rupiah ini dipicu oleh isu politik perang dagang antara Amerika dan China serta hasil dari FOMC Minutes yang menyikapi adanya sikap sabar (dovish) dalam menaikan suku bunga acuannya.

Namun di sisi lain, The Fed juga masih membuka peluang atas kenaikan suku bunga jika ada tekanan inflasi dan perbaikan pertumbuhan ekonomi yang memungkinkan mengubah posisinya untuk kembali mengetatkan uang yang beredar (hawkish).

Hal ini membuat para pelaku pasar tertarik akan peluang terjadinya kenaikan suku bunga acuan Amerika.

Harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami koreksi di tengah menurunnya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS).

Harga dari INDO24 mengalami koreksi harga sebesar 23,8 bps yang mendorong terjadinya peningkatan tingkat imbal hasil sebesar 5,11 bps di level 3,882%. Adapun harga dari INDO29 mengalami penurunan harga sebesar 20,3 bps yang menyebabkan kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 2,44 bps di level 4,189%.

Adapun untuk INDO44 dan INDO49 mengalami koreksi harga masing-masing sebesar 18,40 bps dan 22,2 bps yang mendorong kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 1,10 bps di level 4,979% dan 1,3 bps di level 4,911%.

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan hari Kamis, tanggal 21 Februari 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp15,40 triliun dari 34 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan.

Adapun Surat Utang Negara pada seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,45 triliun dari 31 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Surat Utang Negara seri FR0078 senilai Rp1,86 triliun dari 68 kali transaksi.

Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Sukuk Negara Ritel seri SR010 dan SR009 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu masing-masing sebesar Rp152,66 miliar dari 11 kali transaksi dan Rp101,29 triliun untuk 14 kali perdagangan, kemudian diiringi oleh Project Based Sukuk seri PBS017 dengan volume sebesar Rp47,50 miliar untuk 11 kali transaksi.

Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,47 triliun dari 57 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Adapun untuk perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank Sulselbar Tahap I Tahun 2018 Seri A (BSSB02ACN1) didapati surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar yaitu sebesar Rp200,00 miliar dari 4 kali transaksi.

Selanjutnya volume perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2019 Seri B (TUFI04BCN1) sebesar Rp180,00 miliar dari 5 kali perdagangan dan diikuti oleh volume perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap VII Tahun 2019 Seri A (SMFP04ACN7) sebesar Rp150 miliar untuk 5 kali transaksi.

Berikutnya, untuk surat utang korporasi dengan volume Rp120,00 miliar dari 2 kali transaksi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Chandra Asri Petrochemical Tahap I Tahun 2018 (TPIA02CN1).

Pada perdagangan hari Kamis, tanggal 21 Februari 2019, nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan sebesar 29 pts (0,70%) di level 14071.

Adapun pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika terjadi pada kisaran 14041 hingga 14075. Pelemahan tersebut cukup fluktuatif dan terjadi sepanjang sesi perdagangan.

Rupiah mengalami koreksi terhadap dollar Amerika ditengah mayoritas nilai tukar mata uang regional yang mengalami pelemahan, dimana nilai tukar mata uang yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang yen Jepang (JPY) sebesar 1,68% dan diikuti oleh mata uang won Korea Selatan (KRW) sebesar 1,12%.

Selanjutnya pelemahan mata uang terjadi pada mata uang rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,70% diiringi dengan mata uang dollar Singapura (SGD) yang melemah sebesar 0,52% terhadap mata uang dollar Amerika.

Adapun pergerakan mata uang regional yang mengalami penguatan terjadi pada mata uang ringgit Malaysia (MYR) dan mata uang baht Thailand (THB) masing-masing menguat sebesar 0,44% dan 0,14% terhadap mata uang dollar Amerika.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan kecenderungan mengalami kenaikan terutama pada surat utang dari negara - negara maju yang dianggap sebagai safe haven asset di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham global.

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan sehingga masing - masing berada pada level 2,69% dan 3,05%.

Imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun juga mengalami kenaikan masing-masing di level 1,202% dan 1,714%. Namun yang terjadi pada surat utang Jerman (Bund) didapati mengalami penurunan untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun yang mengalami penurunan masing-masing di level 0,124% dan 0,745%.

Adapun untuk pasar saham Amerika untuk indeks DJIA dan indeks NASDAQ juga mengalami koreksi sehingga masing-masing melemah berada pada level 25850,63 dan 7459,71.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sun

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top