Harga Batu Bara Newcastle Naik Dua Hari Berturut-turut

Harga batu bara di bursa ICE Newcastle berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (18/2/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  08:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa ICE Newcastle berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Senin (18/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif April 2019 menguat 2,10 poin atau 2,30% dan ditutup di level US$93,60 per metrik ton dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (15/2), harga batu bara kontrak April 2019 rebound dan ditutup dengan kenaikan 0,80 poin atau 0,88% di level US$91,50 per metrik ton.

Sebaliknya, harga batu bara di bursa ICE Rotterdam untuk kontrak teraktif Januari 2020 tergelincir dan berakhir terkoreksi 0,50% atau 0,40 poin di posisi 79,35 pada Senin (18/2), setelah mampu ditutup menguat 1,53% di posisi 79,75 sehari sebelumnya.

Adapun di  Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Mei 2019 ditutup turun 0,51% atau 3 poin di level 586,4 yuan per metrik ton pada perdagangan Senin.

“Konsumsi batu bara oleh pembangkit listrik tetap sangat lemah, sehingga mengarah ke inventaris yang lebih tinggi,” jelas analis Guotai Junan Futures, Jin Kata Tao, dilansir Bloomberg.

Jumlah kepemilikan di enam generator listrik utama China naik untuk pekan kelima menjadi 17,3 juta ton pada hari Jumat (15/2), level tertinggi sejak pertengahan Desember, menurut China Coal Resource.

Meski demikian, tambah Jin, permintaan industri diperkirakan meningkat sehingga dapat membantu mengurangi jumlah persediaan.

Di sisi lain, harga minyak mentah menguat di tengah persiapan Amerika Serikat (AS) dan China untuk melanjutkan negosiasi perdagangan pekan ini setelah Presiden Donald Trump mempertimbangkan untuk menunda kembali batas waktu kenaikan tarif.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret menguat 0,47 poin ke level US$56,06 per barel sebelum perdagangan pukul 13:00 di New York Mercantile Exchange.

Transaksi akan diselesaikan pada Selasa (19/2) karena liburan Hari Presiden AS. Harga pekan lalu membukukan kenaikan terbesar dalam lebih dari sebulan terakhir.

Adapun minyak Brent untuk kontrak April berakhir menguat 0,25 poin di level US$66,50 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, setelah naik 6,7% pekan lalu.

Setelah menggelar perundingan di Beijing pekan lalu, AS dan China mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak mungkin mendekati kesepakatan. Hal ini serta merta meningkatkan harapan bahwa perang perdagangan kedua negara akan mereda.

Harga minyak juga menguat menyusul langkah Arab Saudi yang berjanji untuk memotong produksi minyak mentah melebihi tingkat yang disepakati dengan produsen OPEC+ (OPEC dan aliansinya).

“Pemotongan pasokan OPEC+ menjadi penggerak pemulihan lebih lanjut harga minyak yang didorong oleh Arab Saudi," kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS Group AG di Zurich.

Menurut Staunovo, pengetatan pasar juga mendapatkan dukungan dari penurunan tajam dalam produksi oleh produsen Libya, Iran, dan Venezuela, yang telah dikecualikan dari langkah pemangkasan suplai OPEC.

Arab Saudi dan anggota lain dari OPEC telah melakukan awal yang kuat untuk pengurangan produksi mereka sementara Rusia mempercepat pembatasannya. Upaya tersebut mendorong minyak mentah menguat 23% sepanjang tahun ini.

Pasokan juga terancam akibat penerapan sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran.  Di sisi lain, laporan bahwa AS dan China telah mencapai konsensus pada prinsipnya tentang topik utama dalam negosiasi perdagangan mereka membantu meningkatkan selera risiko investor.

Pergerakan harga batu bara kontrak April 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

18 Februari

93,60

(+2,30%)

15 Februari

91,50

(+0,88%)

14 Februari

90,70

(-2,37%)

13 Februari

92,90

(+0,16%)

12 Februari

92,75         

(-0,96%)

Sumber: Bloomberg

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top