Pemesanan ST003 Baru Capai Rp2,73 Triliun, Ini Komentar Analis

Pemesanan investor atas instrumen surat berharga negara untuk investor ritel jenis sukuk tabungan seri ST-003 sudah mencapai Rp2,73 triliun hingga Selasa (19/2/2019) pukul 13.30 WIB. Artinya, tinggal sehari lagi masa pemasaran yang tersisa.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  16:53 WIB
Pemesanan ST003 Baru Capai Rp2,73 Triliun, Ini Komentar Analis
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luki Alfirman (kiri) dan Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu Dwi Irianti Hadiningdyah (kanan), menggandeng Youtuber dengan subscriber terbesar di Asia Tenggara, Atta Halilintar (tengah) untuk mempromosikan instrumen sukuk negara tabungan seri ST-003 yang mulai dipasarkan pada Jumat (1/2/2019). - Bisnis/Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA — Pemesanan investor atas instrumen surat berharga negara untuk investor ritel jenis sukuk tabungan seri ST-003 sudah mencapai Rp2,73 triliun hingga Selasa (19/2/2019) pukul 13.30 WIB. Artinya, tinggal sehari lagi masa pemasaran yang tersisa.

Masa pemasaran instrumen ini akan berakhir esok, Rabu (20/2/2019) pukul 10.00 WIB, atau kurang dari 24 jam lagi. Berdasarkan data Investree.id, total pemesanan baru Rp2,73 triliun, sedangkan kuota tersisa tinggal Rp271 miliar untuk mencapai targetnya Rp3 triliun.

Menimbang waktu pemasaran yang tersisa, pemesanan instrumen ini memang tampak lebih rendah dibandingkan instrumen jenis saving bond retail seri SBR-005 yang diterbitkan Januari 2019 lalu yang mencapai Rp4 triliun.

Selanjutnya, nilai pemesanan ST-003 juga akan lebih rendah dibandingkan realisasi penerbitan seri sebelumnya pada akhir tahun 2018 lalu, yakni ST-002, yang saat itu mencapai Rp4,94 triliun.

Anup Kumar, Senior Analis Fixed Income Bank Maybank Indonesia menilai, naik-turunnya permintaan di segmen obligasi ritel merupakan hal yang cukup lumrah.

Apalagi, tingkat kupon yang ditawarkan ST—003 juga cukup menarik pada level 8,15%, atau lebih tinggi ketimbang obligasi pemerintah bertenor 2 tahun sebesar 7,04%.

“Menurunnya permintaan ST—003 kemungkinan dapat disebabkan oleh penggunaan dana oleh investor ritel untuk beberapa hal seperti konsumsi pribadi, investasi atau modal kerja di sektor riil,” kata Anup kepada Bisnis.com, Selasa (19/2/2019).

Selain itu, Anup menambahkan, terpecahnya permintaan atas ST—003 juga disebabkan oleh meningkatnya frekuensi penerbitan obligasi ritel pada tahun ini yang mencapai 10 kali.

Adapun, secara historis, total nilai nominal yang berhasil dihimpun oleh pemerintah dari segmen ritel pada periode 2013—2018 mencapai Rp22 triliun—Rp57 triliun dengan frekuensi penerbitan 2—5 kali setiap tahun.

Di dalamnya, perlu dicatat bahwa permintaan paling besar biasanya terjadi untuk obligasi ritel yang dapat diperdagangkan—seperti seri ORI dan SR—karena dapat dicairkan kapan saja ketika dibutuhkan.

Berbeda dengan obligasi ritel non-tradable—sepert SBR dan ST—yang memiliki periode holding minimum hingga masa early redemption period.

“Jadi, bila frekuensi banyak, jumlah nominal yang diterbitkan selama tahun 2019 kita asumsikan Rp60 triliun saja, maka wajar akan ada beberapa bulan dan beberapa seri obligasi ritel yang tahun ini penerbitannya akan besar dan sebaliknya,” imbuh Anup.

Oleh karena itu, menurut Anup, apabila penerbitan ST—003 dibandingkan dengan penerbitan obligasi ritel sejenis, seperti ST—001 dan ST—002 yang besaran penerbitanya berkisar antara Rp2,6 triliun—Rp5 triliun, penerbitan ST—003 kali ini di level Rp2,7 triliun dapat dikatakan cukup ramai.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, sukuk

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top