Ini Penyebab Meredupnya Harga Batu Bara Global

Lemahnya permintaan batu bara dari negara importir dinilai menjadi sebagai biang kerok yang melemahkan harga komoditas tersebut belakangan ini.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  17:15 WIB
Ini Penyebab Meredupnya Harga Batu Bara Global
Operator mengoperasikan alat berat di terminal batu bara Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Rabu (9/1/2019). - ANTARA/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA – Lemahnya permintaan batu bara dari negara importir dinilai menjadi sebagai biang kerok yang melemahkan harga komoditas tersebut belakangan ini.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, penurunan impor batu bara di India telah menjadi sentimen negatif bagi harga komoditas andalan Indonesia tersebut. Berdasarkan catatannya, impor batu bara di India hanya 17,25 juta ton pada Januari tahun ini atau turun 11% dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 19,59 juta ton.

“Kelihatannya sentimen ini yang membuat pelaku pasar batu bara semakin khawatir,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (18/2/2019).

Menurutnya, penurunan impor di negara tersebut memperlihatkan makin menurunnya permintaan batu bara global. Sentimen negatif itu kian menjadi setelah negara tersebut tengah berusaha untuk swasembada komoditas tersebut dengan target 1 miliar ton sepanjang kurun 2019-2020.

“Pada saat yang sama, China saja masih membatasi impor batu bara. Belum tahu sampai kapan dibukanya [impor],” katanya.

Dalam pasar batu bara dunia, India memiliki peranan penting sebagai konsumen terbesar bahan bakar fosil tersebut. Mengacu pada laporan Coal 2018 yang dirilis oleh International Energy Agency, India menempati posisi pertama negara dengan konsumsi batu bara tertinggi di dunia selama periode 2016-2017, dengan nilai sebesar 39,685 juta ton. Konsumsi tersebut diserap untuk kebutuhan industri dan pembangkit listrik.

Meskipun demikian, Deddy mengamati batu bara masih memiliki sentimen positif dari kawasan Asia Tenggara dan perundingan dagang China & AS. Untuk Asia Tenggara, permintaan batu bara di Malaysia pada akhir tahun meningkat 25%. Sementara di Vietnam meningkat 14%. Permintaan kedua batu bara di negara itu masih tinggi untuk keperluan pembangkit listrik.

Adapun, dari perundingan dagang AS dan China, aura positif dari pembicaraan tersebut telah membuat pelaku pasar optimistis perbaikan ekonomi global ke depannya. Jika kedua negara tersebut bersepakat, bukan tak mungkin bakal meningkatkan permintaan batu bara.

“Harga minyak juga tetap stabil. Hal ini yang membuat harga batu bara masih akan bertahan di atas level US$90 [per metrik ton],” katanya.

Sejak awal tahun ini, harga batu bara di ICE Newcastle, Australia, kontrak teraktif Maret 2019 belum beranjak dari zona merah.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (15/2/2019) pekan lalu, harga komoditas ini menguat 0,94% atau 0,85 poin di level US$91,75 per metrik ton.

Sementara itu, sehari sebelumnya, harga komoditas andalan Indonesia ini melemah 2,42% atau 2,25 poin pada level US$90,90 per metrik ton. Begitu pula jika dilihat dari awal tahun, harga komoditas ini sudah anjlok 8,16%.

Di sudut lain, harga batu bara di ICE Rotterdam untuk kontrak Maret 2019 juga tak mentereng. Meski pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga komoditas ini ditutup menguat tipis 1,67% atau 1,30 poin pada level US$79,30 per metrik ton, tetapi sedari awal tahun telah loyo 8,54%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, harga batu bara

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top