Harga Karet Kian Melejit, Dipicu Minyak dan Optimisme Diskusi AS-China

Harga karet menguat pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (13/2/2019), di tengah optimisme investor atas hasil positif dari perundingan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani | 13 Februari 2019 16:37 WIB
Pekerja memuat getah karet di tempat penampungan karet sementara Singkut, Sarolangun, Jambi, Kamis (19/10). - ANTARA/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet menguat pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (13/2/2019), di tengah optimisme investor atas hasil positif dari perundingan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juli 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menguat 1,22% atau 2,20 poin di level 183,10 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (12/2/2019), harga karet kontrak Juli berakhir di level 180,90 dengan penguatan tajam 3,10 poin atau 1,74%.

Harga karet mulai melanjutkan penguatannya ketika dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,33% atau 0,60 poin di posisi 181,50 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 183,10 – 183,70.

Sejalan dengan karet di Tocom, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Shanghai Futures Exchange lanjut menguat 0,17% atau 20 poin ke level 11.605 yuan per ton setelah berakhir melonjak 255 poin atau 2,25% di level 11.585 pada perdagangan kemarin.

Dilansir dari Bloomberg, investor mengantisipasi hasil positif yang bakal muncul dari pertemuan antara sejumlah pejabat tinggi China dan AS pekan ini.

Pertemuan kedua belah pihak terselenggara untuk mencegah eskalasi konflik perdagangan lebih lanjut antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

“Pembicaraan perdagangan [kedua negara] berada di pijakan yang tepat dan berkembang cukup baik. Retorika yang datang dari Washington tampak bagus untuk ekonomi, juga untuk karet,” kata Avtar Sandu, manajer senior untuk komoditas di Phillip Futures Pte., Singapura.

Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan memperpanjang batas waktu yang ditetapkan untuk meningkatkan tarif pada produk-produk asal China jika perundingan perdagangan antara kedua negara membuat progres.

“Jika kita [AS-China] membuat progres menuju kesepakatan yang dapat mewujudkan kesepakatan nyata berikut penyelesaiannya, saya bisa saja menunda penerapan [kenaikan tarif] untuk sementara waktu,” kata Trump kepada awak media saat menggelar rapat kabinet pada Selasa (12/2/2019) waktu setempat.

Komentar terbaru dari Trump menjadi indikasi terkuat bahwa ia bersedia memberi lebih banyak waktu kepada China untuk mencapai resolusi guna menghindari konflik perdagangan yang telah memengaruhi ekonomi global.

Perpanjangan tenggat waktu dapat membuka jalan bagi potensi pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping guna menuntaskan kesepakatan.

Sentimen pendukung lain bagi karet datang dari penguatan harga minyak mentah. Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2019 ditutup menguat 69 sen di level US$53,10 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Selasa (12/2).

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 berakhir menguat 91 sen di level US$62,42 per barel di ICE Futures Europe exchange London.

Harga minyak WTI pun terpantau lanjut menguat 0,72% ke level US$53,48 pada pukul 15.17 WIB, sedangkan harga minyak Brent menguat 0,88% ke level US$62,97 per barel.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pulihnya harga minyak mendorong ekspektasi bahwa biaya karet sintetis, alternatif untuk varietas alami, akan meningkat.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Juli 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

13/2/2019

183,10

+1,22%

12/2/2019

180,90

+1,74%

8/2/2019

177,80

-0,78%

7/1/2019

179,20

+0,06%

Sumber: Bloomberg  

Tag : harga karet
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top