Transaksi SUN Januari 2019: Volume Per Transaksi Meningkat

Frekuensi transaksi seri-seri acuan surat utang negara atau SUN sepanjang Jannuari 2019 tidak setinggi Januari 2018 lalu, tetapi nilai transaksi yang relatif tinggi menunjukkan kepercayaan diri investor yang lebih besar.
Emanuel B. Caesario | 06 Februari 2019 22:06 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA—Frekuensi transaksi seri-seri acuan surat utang negara atau SUN sepanjang Jannuari 2019 tidak setinggi Januari 2018 lalu, tetapi nilai transaksi yang relatif tinggi menunjukkan kepercayaan diri investor yang lebih besar.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, rata-rata frekuensi transaksi harian 4 seri acuan SUN pada Januari 2019 mencapai 233 kali per hari. Jumlah ini turun drastis dibandingkan dengan pada Januari 2018 yang mencapai 520 kali per hari.

Akan tetapi, volume transaksi harian sepanjang Januari 2019 cukup tinggi, mencapai Rp7,45 triliun per hari. Volume ini memang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata volume Januari 2018 yang senilai Rp7,6 triliun per hari.

Namun, karena frekuensinya sedikit, ini menunjukkan bahwa nominal yang ditransaksikan masing-masing investor di pasar setiap hari cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan Januari 2018.

Rata-rata volume per transaksi pada Januari 2018 adalah Rp14,6 miliar, sedangkan pada Januari 2019 meningkat menjadi Rp32 miliar per transaksi.

Wahyu Trenggono, Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), mengatakan bahwa kondisi pasar global saat ini mendukung investor asing untuk mengalihkan dananya menuju pasar negara berkembang.

Sepanjang Januari 2019, ada tambahan dana asing senilai Rp16,68 triliun di pasar surat berharga negara (SBN), sedangkan di pasar saham Rp13,82 triliun.

Wahyu menilai, masuknya investor asing ini kemungkinan terjadi dengan nilai transaksi yang cukup tinggi di pasar, sehingga nilai rata-rata per transaksi cenderung tinggi.

Di sisi lain, frekuensi transaksi terbatas karena banyak investor mencoba mengambil keuntungan di aset lain yang juga sedang menarik, seperti pasar saham atau pasar uang.

“Investor pasti akan melihat peluang yang lebih besar. Di pasar ekuitas sekarang sedang ada peluang yang cukup besar, indeks naik lumayan tinggi. Mereka mungkin konsolidasi dari pasar surat utang ke pasar ekuitas atau pasar lain yang sedang meningkat cukup tinggi,” katanya, Rabu (6/2/2019).

Kendati demikian, Wahyu juga memberi catatan bahwa seri acuan SUN yang berlaku antara tahun ini dan 2018 lalu merupakan seri yang berbeda. Bisa jadi, penurunan transaksi pada seri acuan tahun ini disebabkan karena investor masih fokus mentransaksikan seri-seri lama yang memiliki likuiditas yang cukup baik pula di pasar.

“Jadi, tidak selalu bisa diperbandingkan juga antara data tahun ini dan tahun lalu,” katanya.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top