Harga Karet di Aceh Barat Naik Rp300 per Kilogram di Tingkat Pengepul

Harga getah karet deresan petani (50 persen bersih) di tingkat agen pengumpul di Kabupaten Aceh Barat, mulai mengalami kenaikan Rp300 per kilogram dari biasanya Rp7.000 per kilogram menjadi Rp7.300 per kilogram karena permintaan terus meningkat.
News Editor | 03 Februari 2019 20:19 WIB
Petani memanen getah karet. - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, MEULABOH – Harga getah karet deresan petani (50 persen bersih) di tingkat agen pengumpul di Kabupaten Aceh Barat, mulai mengalami kenaikan Rp300 per kilogram dari biasanya Rp7.000 per kilogram menjadi Rp7.300 per kilogram karena permintaan terus meningkat.

Samsul, Penyadap karet Desa Lhung Jawa, Kecamatan Woyla, di Meulaboh,  mengatakan harga itu masih dihitung pembelian di tempat, namun ketika petani menjual langsung ke agen penampung desa, harga beli bisa mencapai Rp8.000/ kg.

"Sebenarnya sudah beberapa bulan lalu terjadi kenaikan, kalau dulu walaupun harga Rp7.500 per kilogram, tapi permintaan biasa saja, sekarang ini permintaannya banyak. Para agen kesulitan juga dapat barang," katanya melalui sambungan telepon Minggu (3/2/2019), seperti dilaporkan Antara.

Hanya saja, persoalan dihadapi masyarakat saat ini adalah persoalan cuaca yang tidak menentu menghambat aktivitas menderes di kebun, malahan setelah di deres sampai 4-5 hari baru bisa diangkut getah karet dari kebun untuk dijual.

Pada pertengah tahun 2018, harga tampung getah karet petani di Aceh Barat sempat anjlok ke level terendah yakni seharga Rp4.000/ kg, bukan karena faktor cuaca atau kurang permintaan, namun para agen lokal tidak bersedia membeli dengan harga tinggi.

Terhitung selama Januari - Februari 2019 ini, harga tampung getah deresan petani mulai membaik, walaupun hanya mengalami kenaikan Rp3.000/ kg akan tetapi cukup membuat petani bersemangat mengetahui harga komoditas itu membaik.

"Kalau dibilang bersemangat, tidak juga, tapi kalau harga bisa naik terus tentu kebun - kebun yang sudah semak belukar akan kami bersihkan lagi. Selama ini kurang terurus, kami datang hanya untuk deres karet, setelah itu pulang," keluhnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemkab Aceh Barat akan berupaya mengembangkan tanaman karet sebagai salah satu sumber perekonomian masyarakat, salah satunya yakni melakukan peremajaan batang karet yang sudah tidak produktif.

Bupati Aceh Barat H Ramli, MS, menyampaikan, melalui program peremajaan karet, kemudian batang karet yang sudah tidak produktif ditebang dan dijual, sehingga hasil kayu batang karet tidak terbuang percuma karena ada investor yang akan menggelola.

"Kita mendapat bantuan dari Belanda bahwa akan ada 43 ribu hektare untuk mereka remajakan karet masyarakat yang sudah kadaluarsa itu, kayunya ditampung mereka, kemudian diolah untuk diekspor ke Jepang dan China," sebutnya.

Investor asal Belanda bergerak dibidang pengolahan kayu karet mentah akan memulai pembangunan pabrik kayu dengan nama perusahaan PT Woyla, usaha tersebut masih dalam proses pengurusan izin dari pemda setempat.

Pemkab Aceh Barat, juga telah melatih para petani deres karet dengan metode yang lebih cangih dan dinamis, pelatihnya didatangkan dari luar negari pada Mei 2018, ada 20 petani Desa Pasie Aceh Tunong, Meureubo, saat itu mengikuti pelatihan tersebut.

Data dirilis Dinas Perkebunan dan Peternakan Aceh Barat pada 2017, daerah setempat memiliki luas kebun karet 24.385 hektare dengan produksi rata - rata 40,6 ton/ hektare/ minggu, namun masih terdapat juga 9.000 hektare yang sudah tidak produktif.

Sumber : Antara

Tag : harga karet
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top