Bumi Teknokultura Unggul (BTEK) Incar Kontribusi Asia 30%-40%

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk. mengincar pertumbuhan penjualan 15% pada 2019 seiring dengan perluasan pasar ekspor ke Asia. 
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  20:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk. mengincar pertumbuhan penjualan 15% pada 2019 seiring dengan perluasan pasar ekspor ke Asia. 

Direktur Utama Bumi Teknokultura Unggul Anne Patricia Sutanto mengungkapkan, perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 15% pada tahun ini. Optimisme ini sejalan dengan proyeksi Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) yang memperkirakan pertumbuhan ekspor olahan kakao berada di rentang 5%-10% pada tahun ini. 

Emiten dengan kode BTEK ini, juga berharap dapat mengejar penjualan pada kuartal IV/2018 agar target pertumbuhan penjualan yang dipasang 20%-25% pada tahun lalu dapat tercapai. Hingga kuartal III/2018, penjualan tercatat tumbuh 44,04% secara year on year menjadi Rp642,01 miliar. 

Jika target tahun lalu tercapai, maka penjualan pada 2018 diperkirakan mencapai sekitar Rp1,06 triliun - Rp1,11 triliun. Dengan demikian, target penjualan tahun ini diperkirakan Rp1,22 triliun. "Rencana kami fokus ke kenaikan 15%," katanya pada Rabu (23/1/2019). 

Target pertumbuhan penjualan tahun ini sejalan dengan strategi perseroan memperluas pasar ekspor ke Asia. Selama ini, pasar ekspor perseroan masih didominasi Eropa dan Amerika. 

Anne mengatakan, perseroan menargetkan kontribusi pasar ekspor Asia sebesar 30%-40% dari total nilai ekspor. Laporan keuangan per 30 September 2018, pasar ekspor berkontribusi 97,81% terhadap total penjualan. 

Lebih lanjut, BTEK melalui cucu usahanya Golden Harvest Cocoa Indonesia (GHCI) mulai memproduksi coklat bubuk atau cocoa powder sebagai lini bisnis barunya. Melalui Golden Harvest, perseroan telah menghasilkan dua produk olahan yakni cocoa cake dan cocoa butter. 

Ekspansi bisnis cocoa powder seiring dengan permintaan produk cocoa powder yang cukup besar. Bahkan, persediaan dari Indonesia tidak cukup. Anne mengatakan, perseroan masih melakukan uji coba terhadap produk ini. Pada tahun ini, BTEK berencana memproduksi 20.000 ton cocoa powder. "[Cocoa powder] sedang trial. Rencana tahun ini 20.000 ton," imbuhnya. 

Sebagai informasi, pabrik pengolahan kakao perseroan memiliki kapasitas terpasang mencapai 120.000 ton per tahun. 

Pada perdagangan Rabu (23/1/2019), saham BTEK ditutup pada level Rp133 per saham, naik 3 poin atau 2,31%. Adapun, kapitalisasi pasar perseroan sebesar Rp6,15 triliun dengan PER 44,33 kali. 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, bumi teknokultura unggul

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top