Minyak Reli Terpanjang, Harga Batu Bara Turun Lagi

Harga batu bara di bursa ICE Newcastle kembali tertekan pada akhir perdagangan Kamis (10/1/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Januari 2019  |  08:29 WIB
Minyak Reli Terpanjang, Harga Batu Bara Turun Lagi
Pekerja berjalan di atas timbunan batu bara, di Asam-asam, Kalimantan Selatan. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa ICE Newcastle kembali tertekan pada akhir perdagangan Kamis (10/1/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Februari 2019 berakhir terkoreksi 0,10 poin atau 0,10% di level US$97,70 per metrik ton.

Padahal, pada sesi perdagangan sebelumnya, Rabu (9/1), harga batu bara kontrak Februari mampu rebound dengan kenaikan 0,41% atau 0,40 poin dan ditutup di level US$97,80 per metrik ton, setelah tertekan enam hari berturut-turut sebelumnya.

Sementara itu, harga batu bara thermal untuk pengiriman Mei 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange terus melanjutkan pelemahannya dan ditutup turun 0,39% atau 2,2 poin di level 561,6 yuan per metrik ton pada perdagangan Kamis (10/1).

“Ketika hawa dingin menghantam sebagian besar negara, pabrik secara bertahap tutup untuk liburan Tahun Baru China sehingga membatasi permintaan industri,” jelas China Coal Resource dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg. Libur Tahun Baru China mulai pada 4 Februari.

Di sisi lain, harga minyak mentah mampu meneruskan reli penguatannya menjadi yang terpanjang dalam hampir satu dekade terakhir setelah pendekatan wait-and-see oleh Federal Reserve atas kenaikan suku bunga menambah prospek yang lebih cerah.

Pada perdagangan Kamis (10/1), harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari ditutup naik 0,4% atau 0,23 poin di level US$52,59 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak Brent untuk kontrak Maret berakhir menguat 0,24 poin atau 0,39% di level US$61,68 per barel di ICE Futures Europe Exchange di London.

Minyak mentah patokan global ini juga telah melonjak lebih dari 20% sejak 24 Desember, memenuhi definisi umum untuk pasar bullish.

Analis komoditas TD Securities, Daniel Ghali mengatakan harga minyak telah pulih di tengah sinyal bahwa pembatasan produksi oleh koalisi OPEC+ akan menyeimbangkan pasar.

Selain itu, komentar Gubernur The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral akan bersabar sebelum menyesuaikan kembali suku bunga juga telah meyakinkan investor.

Minyak masih turun sekitar 30% sejak mencapai level tertinggi empat tahun pada Oktober 2018. Ghali mengungkapkan investor harus terbiasa dengan fluktuasi, karena bank-bank sentral di seluruh dunia menarik stimulus, sehingga menambah volatilitas di seluruh pasar.

Reli terus berlangsung pekan ini meskipun persediaan bahan bakar tumbuh cepat. Kendati Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah menyusut 1,68 juta barel pekan lalu, ada peningkatan substansial dalam produk olahan seperti bensin.

Risiko pasokan berlebih telah menggerakkan Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, untuk mencoba dan meyakinkan pasar bahwa mereka dan mitranya akan mengambil tindakan.

Menteri Energi Saudi, Khalid Al-Falih mengatakan di Riyadh pada Rabu (9/1) bahwa pengurangan 1,2 juta barel per hari yang dijanjikan oleh OPEC akan lebih dari cukup untuk menyeimbangkan pasar.

Dia menambahkan bahwa dia tidak akan mengesampingkan untuk menyerukan tindakan lebih lanjut  jika strategi saat ini terbukti tidak memadai.

"Pesimisme pelaku pasar pada akhir tahun itu berlebihan, jadi kami memperkirakan harga akan naik," kata Eugen Weinberg, kepala riset komoditas di Commerzbank AG di Frankfurt.

"Namun, untuk kenaikan harga lebih lanjut, diperlukan tindakan tegas oleh OPEC," lanjutnya.

Pergerakan harga batu bara kontrak Februari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

10 Januari

97,70

(-0,10%)

9 Januari

97,80

(+0,41%)

8 Januari

97,40

(-1,47%)

7 Januari   

98,85

(-0,40%)

4 Januari

99,25

(-0,05%)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top