Kurs Tengah Menguat 27 Poin, Rupiah Paling Perkasa di Asia

Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Kamis (10/1/2019) di level Rp14.093 per dolar AS, menguat 27 poin atau 0,19% dari posisi Rp14.120 pada Rabu (9/1).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 10 Januari 2019  |  11:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Kamis (10/1/2019) di level Rp14.093 per dolar AS, menguat 27 poin atau 0,19% dari posisi Rp14.120 pada Rabu (9/1).

Kurs jual ditetapkan Rp14.163 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp14.023 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp140.

Adapun berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau menguat 80 poin atau 0,57% ke level Rp14.045 per dolar AS pada pukul 11.05 WIB.

Penguatan nilai tukar rupiah di pasar spot berlanjut untuk hari kedua dengan dibuka menguat 77 poin atau 0,55% di level Rp14.048 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu (9/1), rupiah rebound dan ditutup terapresiasi 23 poin atau 0,16% di posisi Rp14.125 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.004-Rp14.099 per dolar AS.

Penguatan rupiah tak tanggung-tanggung membawanya menjadi yang terkuat terhadap dolar AS di antara mata uang lainnya di Asia pagi ini. Berturut-turut mengekornya adalah ringgit Malaysia dan won Korea Selatan yang masing-masing terapresiasi 0,44% dan 0,39% terhadap dolar AS.

Sementara itu, pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang mengukur kekuatan mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,165 poin atau 0,17% ke level 95,054 pada pukul 10.55 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka terkoreksi 0,069 poin atau 0,07% di level 95,150, setelah pada perdagangan Rabu (9/1) berakhir melorot 0,71% atau 0,684 poin di posisi 95,129.

Dilansir dari Bloomberg, nilai tukar mayoritas mata uang di Asia menguat terhadap dolar AS setelah lebih banyak bukti menunjukkan bahwa Federal Reserve AS kemungkinan akan menghentikan siklus pengetatannya tahun ini.

Risalah pertemuan Federal Reserve bulan Desember mengungkapkan pembuat kebijakan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut.

"Banyak peserta menyatakan pandangan bahwa, terutama dalam tekanan inflasi, komite bisa bersabar dalam penetapan kebijakan lebih lanjut," kata bank sentral dalam risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 18-19 Desember yang dirilis Rabu (9/1/2019), seperti dikutip Bloomberg.

Keputusan untuk menaikkan suku bunga Desember lalu diambil dengan suara bulat tetapi risalah tersebut menunjukkan beberapa peserta tidak menyukai perubahan. FOMC juga memperhatikan volatilitas pasar keuangan baru-baru ini dan risiko terhadap prospek ekonomi.

Turut menopang pasar finansial, China menggambarkan pembicaraan perdagangan pekan ini dengan AS berlangsung dengan “luas, mendalam, dan terperinci". Pemerintah AS mencatat komitmen pemerintahan Presiden Xi Jinping untuk membeli lebih banyak barang-barang pertanian, serta produk energi dan manufaktur dari AS.

“Semalam, sentimen untuk aset risiko terus bertahan, memperpanjang kenaikan dalam aset berisiko yang dimulai Jumat pekan lalu,” tutur pakar strategi DBS Eugene Leow dan Neel Gopalakrishnan dalam risetnya.

“Pasar memiliki dua hal: risalah rapat The Fed yang menegaskan pandangan Powell yang kurang hawkish dan hasil positif yang disimpulkan dari perundingan perdagangan tingkat menengah China-AS.”

Kurs Transaksi Bank Indonesia (Rupiah)               

10 Januari

14.093

9 Januari

14.120

8 Januari

14.031

7 Januari

14.105

4 Januari

14.350

SumberBank Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs tengah bi

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top