Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SMI Bakal Terbitkan Sekuritisasi Aset Pertama Tahun Depan

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) akan menerbitkan instrumen pendanaan berupa sekuritisasi aset pada paruh kedua tahun depan. Sekuritisasi disiapkan untuk memenuhi kebutuhan penyaluran kredit infrastruktur perseroan.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 11 Desember 2018  |  16:01 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Presiden Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur Emma Sri Martini memberikan keterangan di sela-sela peluncuran SDG Indonesia One di Jakarta, Jumat (5/10/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Presiden Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur Emma Sri Martini memberikan keterangan di sela-sela peluncuran SDG Indonesia One di Jakarta, Jumat (5/10/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) akan menerbitkan instrumen pendanaan berupa sekuritisasi aset pada paruh kedua tahun depan. Sekuritisasi disiapkan untuk memenuhi kebutuhan penyaluran kredit infrastruktur perseroan.

Direktur Pembiayaan Investasi PT Sarana Multi Infrastruktur Edwin Syahruzad menjelaskan, besaran dari dana yang diincar melalui sekuritisasi tersebut masih dimatangkan. Perseroan, kata Edwin, perlu mempertimbangkan kebutuhan pada tahun depan.

"Asetnya nanti kredit kami, dan bentuknya KIK EBA. Sekuritisasi ini kami terbitkan untuk memenuhi produk saja karena selama ini kami hanya obligasi," katanya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/12/2018).

Dia mengatakan, kebutuhan kredit pada tahun depan tercatat senilai Rp8 triliun. Adapun, total kredit yang telah disalurkan perseroan pada tahun ini di kisaran Rp12 triliun hingga Rp13 triliun.

Dari kebutuhan Rp8 triliun tahun depan, jelasnya, perseroan telah memiliki dana tunai yang cukup. Hanya saja, SMI masih berlu mengalokasikan dana siaga untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan kredit mendesak.

"Kebutuhan sudah aman, tapi kami juga harus tetap memiliki dana siaga. Kenapa memilih sekuritisasi, karena kami ingin diversifikasi. Sekuritisasi adalah pendalaman pasar obligasi yang konteksnya likuiditas," jelasnya.

Jika terealisasi, ini adalah sekuritisasi pertama yang dilakukan oleh SMI. Sekuritisasi akan menguatkan modal perseroan sehingga ketersediaan dana untuk penyaluran kredit meningkat.

Selain sekuritisasi, perusahaan tersebut juga menyiapkan obligasi hijau alias green bond pada tahun depan. Ini merupakan green bond lanjutan setelah yang pertama kali diterbitkan oleh perseroan pada Juli lalu.

Edwin mengungkapkan, pihaknya berkomitmen untuk menerbitkan green bond lanjutan mengingat dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) masih tersedia Rp2,5 triliun. "Dari Rp3 triliun baru kami pakai Rp500 miliar kemarin," ujarnya.

Terkait dengan nilai yang akan diterbitkan, menurutnya akan tergantung dari dua hal, yakni kondisi pasar dan kebutuhan perseroan. Adapun mengenai waktu menurutnya cukup kondisional. "Kalau market oke, proyek kita ada, ekonomi kondusif, kapanpun bisa diterbitkan."

SMI menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menerbitkan green bond. Ini merupakan bagian dari PUB Green Bond senilai Rp3 triliun dengan nilai emisi sebesar Rp500 miliar pada Tahap I Tahun 2018.

Center for International Climate Research-Oslo (“CICERO”) yang merupakan ahli lingkungan terkemuka di dunia telah memberikan opini “Medium Green” kepada PT SMI.

Melalui green bond, SMI beserta investor mendukung terwujudnya keberlangsungan pembangunan di muka bumi dan PT SMI akan mengalokasikan hasil penerbitan Green Bond untuk membiayai beragam sektor.

Diantaranya sektor energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pengelolaan air bersih. SMI juga memiliki upaya lainnya dalam mendukung SDG melalui program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan membentuk divisi khusus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sarana multi infrastruktur Sekuritisasi Aset
Editor : Ana Noviani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top