Jumlah Utang & Pengetatan Tarif Bebani Kinerja GOLD

Kinerja emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk. pada tahun ini terbebani jumlah utang perseroan dan nilai kontrak dari operator yang mengalami tekanan.
Dara Aziliya | 07 Desember 2018 13:26 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk. pada tahun ini terbebani jumlah utang perseroan dan nilai kontrak dari operator yang mengalami tekanan.

Direktur Visi Telekomunikasi Infrastruktur Riady Nata menyampaikan hingga September 2018, perseroan membukukan rugi bersih karena menanggung utang perusahaan sekaligus utang dari pemegang saham.

“Laba neto kami tergerus karena utang shareholder dan utang pada bank yang masing-masing nilainya Rp63 miliar dan Rp42 miliar per 30 September 2018. Oleh karena itu kami menanggung beban bunga sebesar Rp8,5 miliar,” ungkap Riady di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Perseroan menggarisbawahi pada tahun ini industri telekomunikasi nasional menghadapi tantangan yang cukup berat sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan namun biaya operasional tetap meningkat. Kondisi itu mengakibatkan terjadinya pricing pressure pada Visi Telekomunikasi Infrastruktur.

Gilang Pramono Seto, Direktur Utama Permata Karya Perdana, entitas anak Visi Telekomunikasi Infrastruktur menyampaikan tingkat tekanan harga yang dialami perseroan berbeda-beda dari setiap operator yang menggunakan menara perseroan.

“Memang ada tantangan pada pricing dari jasa penyewaan yang merupakan efek dari atas ke bawah. Kami tidak bisa prediksi pressure-nya akan sampai ke level berapa karena memang belum ada level ideal [harga sewa menara],” ungkap Gilang.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten dengan sandi GOLD tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp25,38 miliar hingga September 2018, meningkat 31,2% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (yoy) yang sebesar Rp19,34 miliar. Hingga akhir tahun, perseroan membidik pendapatan mencapai Rp32 miliar.

Liabilitas perseroan pada periode itu tercatat meningkat 32,86% ke level Rp131,66 miliar dari yoy sebesar Rp99,09 miliar. Menurut Riady, kenaikan liabilitas tersebut datang dari utang usaha perseroan dan pendapatan menara yang belum dibukukan.

Adapun, per September 2018 perseroan memiliki 305 menara atau naik 30 unit dari yoy 275 unit.  70% dari menara perseroan merupakan menara mikro, sedangkan 49% dari pelanggan perseroan adalah Hutchison 3.

Tag : kinerja emiten, Emiten Telekomunikasi
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top