Bursa Asia Terhuyung-huyung Jelang Pidato Xi Jinping

Bursa saham Asia mengawali pekan ini, Senin (5/11/2018), dengan pergerakan di zona merah di tengah kekhawatiran tentang hubungan perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 05 November 2018 08:59 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia mengawali pekan ini, Senin (5/11/2018), dengan pergerakan di zona merah di tengah kekhawatiran tentang hubungan perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS).

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang tergelincir 0,2% pada perdagangan pagi ini. Pada saat yang sama, indeks Nikkei Jepang melorot 1,3%, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,8%, dan bursa saham Australia turun 0,5%.

Sementara itu, indikator bursa berjangka Amerika Serikat (AS) turun 0,4% setelah Wall Street ditutup memerah pada perdagangan Jumat (2/11) akibat kekhawatiran bahwa kesepakatan perdagangan antara AS dan China mungkin tidak akan segera tercapai.

Para investor dipastikan akan mencermati segala berita utama terbaru tentang perang dagang China-AS menjelang pertemuan para pemimpin dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut akhir bulan ini.

Pidato Presiden Cina Xi Jinping di China International Import Expo pada hari ini waktu setempat diperkirakan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut terkait hubungan perdagangannya dengan AS.

Aktivitas perdagangan secara luas juga diperkirakan akan berhati-hati menjelang pemilihan paruh kongres AS pada Selasa (6/11) waktu setempat.

Jajak pendapat menunjukkan peluang kuat bahwa Partai Demokrat dapat memenangkan mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setelah dua tahun tidak menggunakan kekuatan politiknya di Washington, sementara Partai Republik kemungkinan akan mengendalikan Senat.

Prospek untuk saham global juga telah tertutup oleh prospek kenaikan suku bunga dengan laju yang lebih cepat di Amerika Serikat mengingat kuatnya data ekonomi dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintah AS melaporkan pertumbuhan pekerjaan yang solid untuk Oktober, dengan kenaikan upah tahunan di level tertinggi dalam 9,5 tahun, sehingga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember.

“Laporan pekerjaan AS mendukung pandangan kami bahwa Federal Reserve akan menaikkan sebanyak suku tiga kali lagi dari sekarang hingga pertengahan 2019,” jelas Capital Economics dalam risetnya, seperti dikutip Reuters..

“Setelah itu, kami menduga bahwa efek kumulatif pengetatan kebijakan moneter akan mulai berdampak pada ekonomi AS, memaksa the Fed untuk mengakhiri siklus pengetatan serta menarik imbal hasil Treasury, pasar saham AS, dan dolar turun.”

Kuatnya laporan pekerjaan tersebut menyebabkan rally dolar AS pada Jumat (2/11) setelah greenback berjuang mempertahankan penguatannya. Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terakhir berada di posisi 96,414.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top