Kinerja Emiten Konglomerat Tersandung Sawit dan Properti

Sejumlah grup konglomerasi terbebani oleh kinerja emiten anak usaha di sektor perkebunan dan properti yang cenderung terkoreksi, kendati secara konsolidasi membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang positif.
Tim Bisnis Indonesia | 05 November 2018 11:47 WIB
Kinerja emiten konglomerat Januri-September 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah grup konglomerasi terbebani oleh kinerja emiten anak usaha di sektor perkebunan dan properti yang cenderung terkoreksi, kendati secara konsolidasi membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang positif.

Kinerja emiten grup konglomerai selama tiga kuartal 2018 menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (5/11/2018). Berikut laporannya.

Berdasarkan rekapitulasi laporan keuangan 15 konglomerasi, grup-grup besar nasional seperti grup Astra, Djarum, dan Sinarmas masih mampu mencetak kinerja yang relatif solid sepanjang Januari—September 2018.

Induk usaha Grup Astra PT Astra International Tbk. (ASII), misalnya, membukukan kenaikan laba 20,58% year on year (yoy) menjadi Rp17,07 triliun. (Lihat infografis)

Namun, sejumlah grup konglomerasi yang memiliki sayap bisnis di sektor perkebunan dan properti merasakan tekanan dari dua sektor tersebut.

Grup Salim, yang diwakili oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), misalnya, mengalami koreksi laba konsolidasi 13,57% menjadi Rp2,82 triliun.

Laba INDF tergerus oleh anjloknya laba dua perusahaan kebun grup Salim, yakni PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) yang turun 77,64% dan PT PP London Sumatra Tbk. (LSIP) turun 39,83% yoy.

Tekanan dari emiten sektor perkebunan juga dialami oleh grup Astra, grup Sinarmas, dan grup Rajawali. Sepanjang 9 bulan 2018, laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) turun 18,22%, laba bersih PT Smart Tbk. (SMAR) turun 98,4%, dan laba bersih PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) turun 100,36%.

Presdir ASII Prijono Sugiarto, dalam keterangan resmi, menyampaikan pelemahan harga minyak kelapa sawit masih diwaspadai oleh perseroan.

Senada, Direktur Utama dan CEO Indofood Anthoni Salim mengakui harga CPO menjadi tantangan bagi kinerja INDF.

Adapun, tekanan dari sektor properti dialami grup Lippo dan grup Sinarmas. Tekanan grup Lippo juga berasal dari sektor peritel yang kinerjanya masih lesu.

Adapun, dua emiten properti grup Sinarmas, yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) juga membukukan penurunan laba bersih.

Beruntung, kinerja grup Sinarmas ditopang oleh dua emiten sektor pulp dan kertas yang mencetak kinerja moncer, yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) dan PT Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM).

Di antara capaian kinerja positif sejumlah konglomerasi, tahun ini tampaknya belum menjadi tahun yang baik bagi Grup MNC karena belum mendapatkan efek positif dari belanja iklan pada tahun politik.

Ike Widiawati, Kepala Riset OSO Sekuritas, mengatakan kinerja Grup Astra secara keseluruhan didongkrak oleh kinerja PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang mencetak pertumbuhan laba bersih 60,89%.

Adapun, grup Djarum relatif solid dengan pertumbuhan laba single digit yang dicetak oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR). Kendati demikian, Ike mengatakan margin laba BBCA dan TOWR pada 9 bulan 2018 turun tipis secara tahunan menjadi masing-masing 40,13% dan 38%.

“BBCA itu emiten besar dan blue chip, yang harus diantisipasi adalah risiko kenaikan suku bunga,” ungkapnya, Jumat (2/11).

Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo menambahkan kinerja grup Salim cukup menarik, akan tetapi secara keseluruhan menurun karena emiten perkebunan.

“Kinerja grup Astra didorong segmen otomotif, alat berat dan pertambangan. Walaupun dari sisi perkebunan grup Astra menurun, tetapi secara keseluruhan masih menarik dengan proyeksi pertumbuhan 15% sampai akhir 2018,” ungkapnya.

TERTOLONG DIVERSIFIKASI

Reza Priyambada, Senior Analyst CSA Research Institute, mengatakan bahwa diversifikasi bisnis dalam satu konglomerasi membantu konglomerasi untuk saling menopang ketika ada sektor bisnis yang tertekan.

Reza menilai, kinerja bisnis konglomerasi masih sesuai ekspektasi, sebab secara umum kondisi bisnis tahun ini memang diproyeksikan akan tumbuh melambat. Hanya saja, beberapa emiten mengalami kinerja anomali karena adanya pendapatan non-rutin.

Laba LPCK, misalnya, melonjak hingga 587% lantaran adanya divestasi anak usaha pengembang proyek Meikarta. Di sisi lain, LPKR justru mengalami rugi selisih kurs yang belum terealisasi mencapai Rp1,35 triliun.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menilai secara umum, konglomerasi yang memiliki emiten pertambangan akan memiliki kinerja positif. Namun, kinerja tersebut bergantung kepada harga komoditasnya masing-masing.

Adapun, emiten yang memiliki komoditas perkebunan tengah mengalami tekanan akibat penurunan harga CPO yang baru akan membaik pada awal 2019. (Dara Aziliya/Hafiyyan/Novita S. Simamora/Emanuel B. Caesario/Tegar Arief)

 

Tag : rekomendasi saham, kinerja emiten
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top