Margin Emiten Rokok Berpotensi Meningkat 

Margin perusahaan rokok berpotensi meningkat pada 2019 seiring dengan rencana pemerintah tidak menaikkan tarif cukai.
Hafiyyan | 04 November 2018 19:29 WIB
Pekerja melinting rokok sigaret kretek di salah satu industri rokok di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (31/5). - Antara/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA—Margin perusahaan rokok berpotensi meningkat pada 2019 seiring dengan rencana pemerintah tidak menaikkan tarif cukai.

Pada Jumat (2/11/2018), Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa cukai rokok tidak akan meningkat pada 2019.  Padahal, berdasarkan APBN 2019 pemerintah menargetkan pertumbuhan cukai 6,4% year on year (yoy) menjadi Rp165,5 triliun.

“Oleh karena itu, kami menilai pernyataan soal tidak naiknya tarif cukai pada 2019 mengejutkan pelaku pasar,” papar analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya, Sabtu (3/11/2018).

Menurutnya, dengan tidak adanya pertumbuhan cukai rokok, pasar meyakini margin perusahaan rokok akan lebih tinggi pada 2019.

Sentimen ini tentunya menguntungkan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) sebagai pemimpin pasar.

Pada 2018, peningkatan cukai paling tinggi yakni 12,6% yoy ialah untuk jenis Sigaret Putih Mesin (SPM), sedangkan tarif Sigaret Kretek Tangan (SKT) tumbuh paling rendah 5,8% yoy. Adapun, cukai Sigaret Kretek Mesin (SKM) naik 11,3%.

Christine menyampaikan, GGRM akan menjadi emiten yang paling diuntungkan dengan kebijakan ini, karena memiliki target pasar luas di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Segmen pasar tersebut biasanya sensitif terhadap kenaikan harga.

Dengan asumsi perusahaan menaikkan harga jual rata-rata (average selling price/ ASP) 5% yoy pada 2019, margin kotor akan meningkat 3% dan laba bersih tumbuh 30% yoy. Dia pun merekomendasikan beli terhadap GGRM dengan target harga Rp87.000 yang menggambarkan Price to Earning Ratio (PER) 19,4 kali.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe berpendapat, pernyataan pemerintah tentang tidak naiknya tarif cukai memberikan angin segar bagi industri rokok. Ada peluang volume penjualan rokok semakin meningkat.

“Pernyataan ini memberikan angin segar baru bagi emiten rokok,” tuturnya.

Menurutnya, kenaikan cukai yang terjadi setiap tahun tidak terlalu memengaruhi kinerja emiten rokok. Pasalnya, peningkatan tarif kemudian dibebankan kepada konsumen dalam bentuk peningkatan harga.

Namun demikian, pertumbuhan penjualan diperkirakan tidak akan terlalu tinggi. Dari sisi saham, dia menjagokan HMSP dengan target harga Rp5.000.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/11/2018), saham HMSP dan GGRM meningkat signifikan, sehingga turut membantu pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke atas level 5.900.

Saham GGRM menguat 4.775 poin atau 6,60% menjadi Rp77.075. Price to Earning Ratio (PER) mencapai 20,86 kali dengan kapitalisasi pasar Rp148,30 triliun.

Saham HMSP naik 150 poin atau Rp4,11% menjadi Rp3.800. PER mencapai level 34,23 kali dengan kapitalisasi pasar Rp442,01 triliun.
  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hmsp, emiten rokok, ggrm

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top