AS-China Angkat Harapan Solusi Perang Dagang, Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat (2/11/2018), setelah China dan Amerika Serikat (AS) mengutarakan optimisme mereka terkait penyelesaian perang perdagangan.
Renat Sofie Andriani | 02 November 2018 09:32 WIB
Bursa Asia MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat (2/11/2018), setelah China dan Amerika Serikat (AS) mengutarakan optimisme mereka terkait penyelesaian perang perdagangan. 

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang menguat 0,46%, menambah kenaikan pada hari sebelumnya. Tetap saja indeks saham acuan kawasan Asia ini mencatat penurunan 10,3% pada Oktober, kinerja bulanan terburuknya sejak Agustus 2015.

Pada saat yang sama, bursa saham Australia turun 0,18% dan indeks Nikkei Jepang menanjak 1,27%.

Penguatan di bursa Asia pagi ini mengikuti penguatan yang dibukukan bursa Wall Street AS semalam. Pada perdagangan Kamis (1/11), indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 masing-masing naik 1,06%, sedangkan Nasdaq Composite menguat 1,75%.

Kombinasi dari aksi bargain hunting menyusul penurunan tajam dalam pasar ekuitas bulan lalu berikutnya kuatnya laporan kinerja keuangan sejumlah korporasi telah membantu memantapkan penguatan Wall Street.

Investor juga mendengar kabar bahwa para pemimpin dari China dan AS mungkin siap untuk mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan mereka, salah satu faktor utama di balik pergolakan aset berisiko baru-baru ini.

Presiden AS Donald Trump mengatakan diskusi-diskusi perdagangan dengan China "berjalan dengan baik", sedangkan Presiden China Xi Jinping mengungkapkan harapan memperluas kerja sama perdagangan bilateral.

Trump mengatakan dia berencana untuk bertemu dengan Xi dalam KTT G-20 mendatang

Terlepas dari hal itu, menggarisbawahi risiko seputar hubungan perdagangan China-AS, sebuah tudingan yang disampaikan Departemen Kehakiman AS menyatakan perusahaan-perusahaan yang berbasis di daratan China dan Taiwan telah bersekongkol mencuri rahasia dagang untuk perusahaan semikonduktor AS.

Sementara itu, ada ketidakpastian lain untuk investor, saat pertumbuhan manufaktur melambat di seluruh dunia sehingga menambah kekhawatiran tentang prospek kinerja keuangan perusahaan, investasi bisnis dan perdagangan.

Data dari AS juga menunjukkan aktivitas manufaktur melesu pada Oktober, setelah survei manufaktur menunjukkan aktivitas pabrik dan pesanan ekspor melemah di seluruh kawasan Asia sebagai dampak dari mendalamnya perang perdagangan.

Menambah kecemasan, Apple Inc pada Kamis (1/11) memperingatkan bahwa penjualan untuk kuartal liburan kemungkinan akan meleset dari ekspektasi Wall Street akibat pelemahan makroekonomi di pasar negara berkembang termasuk Brasil, Rusia, India dan Turki.

“Peringatan dari Apple dapat memengaruhi sentimen pasar ekuitas hari ini,” kata analis di National Bank of Australia dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top