Bursa Asia Awali November dengan Lebih Kuat

Bursa saham Asia mampu mengawali November di posisi lebih tinggi setelah sentimen investor mendapatkan angin segar dari sesi perdagangan yang kuat di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 01 November 2018 09:29 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia mampu mengawali November di posisi lebih tinggi setelah sentimen investor mendapatkan angin segar dari sesi perdagangan yang kuat di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik 0,15% pada perdagangan pagi ini, Kamis (1/11/2018), menambah kenaikan pada hari sebelumnya, meskipun dialami setelah  kinerja Oktober yang buruk.

Indeks saham acuan kawasan Asia tersebut telah merosot 10,2% pada Oktober, kinerja bulanan terburuknya sejak Agustus 2015, saat sejumlah faktor mulai dari tensi perdagangan China-AS hingga kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global, suku bunga AS yang lebih tinggi, dan kinerja keuangan korporasi memunculkan volatilitas di pasar global.

Namun, ada tanda-tanda tentatif bahwa kesuraman tersebut perlahan mulai terangkat, didorong rebound saham-saham di AS.

Wall Street menguat untuk hari kedua pada perdagangan Rabu (31/10), saat hasil kinerja keuangan korporasi yang kuat dan aksi bargain hunting terhadap saham teknologi dan internet mengangkat sentimen pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 241.12 poin atau 0,97% di level 25.115,76, indeks Standard & Poor’s 500 menguat 29,11 poin atau 1,09% di 2.711,74 dan Nasdaq Composite berakhir melonjak 144,25 poin atau 2,01% di 7.305,90.

Perbaikan sentimen itu pun menjalar ke Asia, dengan bursa saham Australia naik 0,55% dan indeks Kospi Korea Selatan bertambah 0,5%. Di sisi lain, indeks Nikkei Jepang tergelincir dari penguatan besar yang dibukukan dua hari sebelumnya.

“Apa yang kita lihat adalah pasar ekuitas mencoba untuk rebound setelah tertekan. Kinerja keuangan korporasi di pasar AS dan Jepang telah relatif kuat secara keseluruhan, yang artinya ada banyak peluang bargain hunting,” jelas Soichiro Monji, ekonom senior di Daiwa SB Investments, seperti dikutip Reuters.

“Rebound yang sedang terjadi memiliki ruang lebih lanjut. Konflik perdagangan AS-China akan terus memengaruhi faktor pasar, tetapi kekhawatiran terburuk tampaknya telah mereda untuk saat ini, setidaknya hingga pemilu paruh waktu di AS.”

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Renat Sofie Andriani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top