Trump Tiup Sentimen Segar, Bursa Asia Bangkit Dari Tekanan

Bursa saham Asia tertekan pada perdagangan hari ini, Selasa (30/10/2018), menyusul pelemahan yang dialami bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) akibat berlanjutnya kekhawatiran mengenai perang dagang AS-China.
Renat Sofie Andriani | 30 Oktober 2018 13:11 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia mampu bergerak ke posisi lebih tinggi pada perdagangan siang ini, Selasa (30/10/2018). Hal tersebut seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar akibat terbebani kabar bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang bersiap untuk mengumumkan tarif terhadap semua sisa impor China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific melonjak 0,8% pada pukul 2.22 siang waktu Tokyo (pukul 12.22 siang WIB).

Sejumlah indeks saham acuan di kawasan Asia, termasuk di China, bergerak naik setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News mengenai apa yang dibayangkannya mengenai tercapainya kesepakatan dagang, meskipun juga berpikir pemerintah China belum siap untuk itu.

Pemberitaan tentang hal ini serta merta membantu mengubah sentimen sebelumnya. Trump juga dikabarkan melihat kesepakatan dengan Brasil, yang telah memilih veteran tentara sayap kanan sebagai Presiden berikutnya.

Futures pada indeks S&P 500 ikut naik setelah indeks saham acuan ini merosot pada perdagangan Senin (29/10). Pada Senin, bursa saham AS ditutup melemah menyusul kekhawatiran baru dari eskalasi ketegangan perdagangan AS-China dan penurunan tajam dalam sektor teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melorot 245,39 poin atau 0,99% di level 24.442,92, indeks Standard & Poor’s 500 melemah 17,44 poin atau 0,66% di 2.641,25, dan Nasdaq Composite berakhir merosot 116,92 poin atau 1,63% di 7.050,29.

Ketiga indeks utama tersebut melemah tajam menyusul laporan Bloomberg bahwa pemerintah AS sedang bersiap untuk mengumumkan tarif terhadap semua sisa impor China pada awal Desember, jika pembicaraan antara presiden Donald Trump dan Xi Jinping yang direncanakan berlangsung bulan depan tidak berjalan mulus.

Indeks volatilitas CBOE Global Markets pun melonjak menjadi setinggi 27,86 poin,  level tertingginya sejak 11 Oktober.

“Probabilitas bursa saham global beralih ke pasar yang bearish meningkat,” ujar Masanari Takada, pakar strategi di Nomura Securities, seperti dikutip Reuters.

“Saat sejumlah investor yang melihat fundamental melakukan pembelian dari pelemahan, ada pelaku pasar lain yang tetap melakukan penjualan merespons meningkatnya volatilitas.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top