Emiten Logam Ini Genjot Ekspansi Penghiliran

Sejumlah emiten logam melakukan ekspansi ke sektor hilir untuk meningkatkan nilai produk sekaligus mengerek pendapatan.
Hafiyyan | 30 Oktober 2018 17:27 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten logam melakukan ekspansi ke sektor hilir untuk meningkatkan nilai produk sekaligus mengerek pendapatan.

Berdasarkan catatan Bisnis, setidaknya ada 4 emiten logam yang menggiatkan ekspansi ke sektor hilir, yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA), dan PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC).

ANTM memiliki 4 proyek hilirisasi seperti pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) dan Chemical Grade Alumina (CGA) di Kalimantan Barat, serta pabrik Nickel Pig Iron (NPI) Blast Furnace dan pabrik Feronikel di Halmahera Timur.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo menyampaikan, perusahaan masih dalam proses pengambilalihan 20% saham PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) yang mengoperasikan pabrik CGA Tayan dari Showa Denko K.K (SDK) Jepang. Adapun, 80% saham lainnya sudah dipegang Antam.

“Sudah ada persetujuan dari lenders [SDK]. Proses selanjutanya, Antam menunggu persetujuan Kementerian ESDM untuk melakukan sales and purchase agreement (SPA),” tuturnya saat dihubungi, Senin (29/10/2018).

Pada tahun ini, perusahaan juga tengah mengembangkan pabrik feronikel di Halmahera Timur berkapasitas 13.500 TNi per tahun. Diharapkan pembangunan proyek senilai Rp3,5 triliun ini rampung pada akhir 2018. Alhasil, proses commissioning dan komersial dapat dilakukan pada 2019.

Sementara itu, Senior Manager Communications PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Budi Handoko mengatakan, perusahaan berencana mengembangkan dua proyek smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Saat ini, INCO sedang menyeleksi calon patner JV untuk dua proyek tersebut.

“Proyek Bahodopi dan Pomalaa masih dalam tahapan seleksi calon patner JV. Kami coba speed up prosesnya agar selesai akhir tahun atau awal tahun depan,” ujarnya.

Menurutnya, masing-masing calon patner mengajukan rencana pabrik dengan kapasitas dan nilai investasi yang berbeda. Oleh karena itu, perencanaan smelter baru akan dipastikan setelah INCO memutuskan rekanan dalam JV. 

Direktur Cita Mineral Investindo Yusak Pardede menyampaikan, perseroan melalui PT Well Harvest Mineral Refinery (WHW) mempertimbangkan menaikkan kapasitas produksi menjadi dua kali lipat. CITA juga memasok Mineral Grade Bauxite (MGB) ke WHW untuk diolah menjadi Smelter Grade Alumina (SGA).

“Dalam beberapa tahun mendatang, jumlahnya dapat ditingkatkan menjadi 2 juta ton SGA,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan Kapuas Prima Coal Hendra Susanto menyampaikan, perusahaan berencana mengembangkan smelter seng berkapasitas 60.000 ton per tahun. Durasi pengembangan direncanakan berlangsung 2,5—3 tahun. 

Tag : antam, emiten logam
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top