Bursa Asia Rebound Pagi Ini, Sentimen Pasar Tetap Rapuh

Bursa saham Asia berhasil rebound dari penurunan tajamnya pekan lalu pada perdagangan pagi ini, Senin (29/10/2018), meskipun sentimen tetap rapuh di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kinerja perusahaan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Renat Sofie Andriani | 29 Oktober 2018 09:17 WIB
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia berhasil rebound dari penurunan tajamnya pekan lalu pada perdagangan pagi ini, Senin (29/10/2018), meskipun sentimen tetap rapuh di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kinerja perusahaan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang rebound 0,4% setelah meluncur hampir 4% pekan lalu.

Sentimen yang lebih luas di pasar telah terpukul oleh berbagai faktor negatif mulai dari konflik dagang China-Amerika Serikat (AS) yang memanas, kekhawatiran tentang kinerja korporasi AS, anggaran Italia, hingga kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Di antara pasar negara berkembang (emerging market), saham-saham yang terkait dengan Brasil pagi ini mendapat dukungan dari pemilihan presiden di negara tersebut.

Jair Bolsonaro meraih kemenangan dalam pemilihan presiden Brasil yang digelar pada Minggu (28/10). Ini menandakan perubahan keras ke sayap kanan yang menjanjikan terhadap investasi swasta, penguatan hubungan dengan AS, serta tindakan agresif terhadap kejahatan.

Adapun indeks Nikkei Jepang pagi ini rebound 1%, bursa saham Australia menanjak 0,8%, dan indeks Kospi Korea Selatan naik 0,7%.

E-Mini futures untuk S&P 500 dan Dow Jones juga bergerak 0,3% lebih tinggi masing-masing setelah pekan yang bergejolak pada Wall Street.

Namun bursa saham China memilih arah berbeda dengan indeks blue chip CSI 300 turun 0,9%. Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 0,7%.

Sejumlah analis memperingatkan lebih banyak volatilitas setelah penurunan tajam di seluruh indeks saham utama meninggalkan investor dengan return yang negatif untuk tahun ini.

Kondisi bearish sedang meningkat, dengan beberapa indeks sudah berada di wilayah koreksi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kinerja keuangan korporasi dan pertumbuhan global.

“Sentimen akan terus mendominasi arah pasar dalam jangka pendek dan investor akan memperhatikan dengan cermat berita-berita baru dalam beberapa pekan mendatang,” kata Nick Twidale dari Rakuten Securities Australia di Sydney, seperti dikutip Reuters.

“Musim laporan keuangan berlanjut dan ketegangan politik di Amerika Serikat, Italia, Jerman dan Inggris akan terus berkontribusi terhadap arus global secara keseluruhan,” tambah Twidale.

Indeks S&P 500 berakhir di level terendah sejak awal Mei pada Jumat (26/10) dan rentan terhadap teritori koreksi, akibat tertekan oleh penurunan besar dalam saham perusahaan teknologi dan internet.

Data yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS naik pada tingkat tahunan sebesar 3,5% pada kuartal ketiga, dari 4,2% pada kuartal kedua. Sebagian perlambatan didorong oleh penurunan ekspor kedelai yang terkait dengan pengenaan tarif.

Sementara itu, rilis sejumlah indikator ekonomi dengan hasil yang mengecewakan dari China baru-baru ini juga cenderung membebani sentimen investor.

Data yang dirilis selama akhir pekan menunjukkan pertumbuhan laba di perusahaan industri China melambat untuk bulan kelima berturut-turut pada September seiring dengan menyurutnya penjualan bahan baku dan barang-barang manufaktur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top