Laba ACST Tergerus Beban Proyek Ini

Peningkatan beban keuangan atas proyek-proyek contractor pre-financing, yang saat ini tengah digarap oleh PT Acset Indonusa Tbk., mengerek beban keuangan perseroan sehingga berujung tergerusnya laba bersih perseroan pada kuartal III/2018.
M. Nurhadi Pratomo | 28 Oktober 2018 15:15 WIB
IPO ACST

Bisnis.com, JAKARTA— Peningkatan beban keuangan atas proyek-proyek contractor pre-financing, yang saat ini tengah digarap oleh PT Acset Indonusa Tbk., mengerek beban keuangan perseroan sehingga berujung tergerusnya laba bersih perseroan pada kuartal III/2018.

Dalam laporan keuangan kuartal III/2018, Acset Indonusa mengantongi laba setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp91,23 miliar pada kuartal III/2018. Pencapaian tersebut turun 18,01% dari posisi Rp111,27 miliar pada kuartal III/2017.

Padahal, emiten berkode saham ACST itu mengantongi pendapatan Rp2,73 trilun. Jumlah tersebut naik 40,54% dari posisi Rp1,94 triliun pada kuartal III/2017.

Sementara itu, beban pokok pendapatan perseroan tercatat naik 35,67% secara tahunan pada kuartal III/2018. Terjadi kenaikan dari Rp1,62 triliun menjadi Rp2,20 triliun.

Di sisi lain, biaya keuangan atau finance costs perseroan mengalami kenaikan 302,22% secara tahunan. Nilai yang dikeluarkan emiten berkode saham ACST itu naik dari Rp55,36 miliar menjadi Rp222,67 miliar.

Saat dihubungi Bisnis, Maria Cesilia Hapsari, Corporate Secretary & Investor Relations Acset Indonusa menjelaskan bahwa dalam skema contractor pre-financing (CPF), kontraktor menanggung pembiayaan proyek sampai dengan dengan serah terima 100%. Menurutnya, saat ini ACST memiliki beberapa proyek CPF besar yang tengah dikerjakan.

“Beban keuangan akan meningkat tetapi wajar karena kontribusi besar proyek CPF pada tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (26/8).

Maria mengklaim kenaikan beban keuangan tidak dapat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Paslanya, profil proyek berjalan yang dimiliki perseroan berbeda.

Terkait dengan kinerja keuangan sampai dengan akhir 2018, dia menyebut belum dapat memberikan proyeksi.“ Untuk  bottom line dan top line kami masih dalam perhitungan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Maria memaparkan komposisi pendapatan, sampai dengan September 2018, terdiri atas infrastruktur 77%, konstruksi 13%, pondasi 6%, sektor lainnya 4%. Adapun, sektor lainnya menggambarkan aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh anak usaha perseroan.

Adapun, pihaknya menyatakan masih optimistis mencapai target kontrak baru Rp10 triliun yang dibidik pada 2018. Hal itu sejalan dengan sejumlah tender proyek besar yang masih dibidik oleh perseroan.

“ACST masih terlibat dalam proses tender beberapa proyek strategis, dimana Perusahaan tetap optimis untuk memperoleh kontrak baru hingga akhir tahun,” jelasnya.

Tag : kinerja emiten
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top