Bursa Asia Berjuang Rebound, Laporan Keuangan Korporasi AS Ancam Prospek

Bursa saham Asia berjuang melepaskan diri dari pelemahannya, setelah laporan keuangan yang lesu dari raksasa teknologi Alphabet Inc dan Amazon.com meningkatkan kekhawatiran mengenai perdagangan dunia dan pertumbuhan ekonomi.
Renat Sofie Andriani | 26 Oktober 2018 09:12 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia berjuang melepaskan diri dari pelemahannya, setelah laporan keuangan yang lesu dari raksasa teknologi Alphabet Inc dan Amazon.com meningkatkan kekhawatiran mengenai perdagangan dunia dan pertumbuhan ekonomi.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang bergerak flat setelah turun ke posisi lebih rendah pada awal perdagangan pagi ini, Jumat (26/10/2018). Indeks saham acuan di kawasan ini telah tertekan oleh aksi jual yang dalam selama beberapa hari terakhir dan merosot lebih dari 3% pekan ini.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,6% dan bursa saham Australia naik tipis 0,2%. Adapun indeks Nikkei Jepang membukukan kenaikan lebih besar yakni 0,5% meskipun belum mampu mengikis sebagian besar pelemahannya pada Kamis (25/10).

Awal yang buruk bagi bursa-bursa regional terjadi terlepas dari rebound tajam yang berhasil dibukukan bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) semalam, didorong aksi bargain hunting dan laporan keuangan Microsoft Corp.

Namun kemudian saham Amazon.com Inc dan Alphabet Inc turun tajam setelah penutupan perdagangan akibat laporan keuangan yang mengecewakan.

Seperti yang diduga, Nasdaq futures pun turun 0,9% dan S&P E-mini futures turun 0,6%, menggarisbawahi kekhawatiran meluas tentang laporan keuangan perusahaan AS dan prospek ekonomi, yang memicu pelemahan di Wall Street pada hari Rabu (24/10) sekaligus menyeret pasar global.

Pasar keuangan telah tertekan dalam beberapa sesi terakhir di tengah kekhawatiran pertumbuhan global saat investor meresahkan friksi perdagangan China-AS, laporan keuangan perusahaan AS dengan beragam hasil, kenaikan suku bunga Federal Reserve, dan anggaran Italia. P

Selain itu, perlambatan di Tiongkok sangat mengkhawatirkan bagi pembuat kebijakan dan investor, sehingga memukul pasar aset mulai dari saham hingga mata uang dan komoditas.

Analis di Capital Economics menyuarakan kehati-hatiannya bahwa rebound pada indeks S&P 500 pada Kamis (25/10) hanya berlangsung sementara karena kekhawatiran investor tentang prospek ekonomi memburuk.

“(Kekhawatiran) pertama dan yang paling penting adalah bahwa langkah pengetatan oleh The Fed dan memudarnya stimulus fiskal akan menyebabkan ekonomi AS memburuk. Yang kedua adalah bahwa ekonomi China akan terus bergulat,” paparnya.

"Seperti yang telah kami perdebatkan untuk sementara waktu, kekhawatiran ini kemungkinan akan memburuk selama dua belas bulan ke depan atau lebih.”

Tag : bursa asia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top