Wall Street Rebound Didorong Aksi Bargain Hunting

Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berhasil rebound dari penurunan tajamnya, setelah laporan laba Microsoft mendorong rebound sektor teknologi dan investor melakukan aksi bargain hunting (berburu saham di harga rendah).
Renat Sofie Andriani | 26 Oktober 2018 06:25 WIB
Bursa AS

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berhasil rebound dari penurunan tajamnya, setelah laporan laba Microsoft mendorong rebound sektor teknologi dan investor melakukan aksi bargain hunting (berburu saham di harga rendah).

Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir menguat 1,63% atau 401,13 poin di level 24.984,55, indeks S&P 500 menanjak 1,86% atau 49,47 poin di 2.705,57, dan indeks Nasdaq Composite ditutup melonjak 2,95% atau 209,94 poin di level 7.318,34.

Nasdaq membukukan kenaikan persentase harian terbesarnya sejak 26 Maret, sehari setelah mengonfirmasikan koreksi dan mengalami penurunan harian terbesar sejak 2011. Adapun indeks Dow Jones dan S&P 500 kembali ke teritori positif untuk tahun ini.

Saham Microsoft melonjak 5,8% setelah mengalahkan perkiraan konsensus untuk pendapatan dan laba. Faktor ini, bersama dengan kenaikan dalam produsen chip, membantu saham teknologi naik 2,89%.

“Ada sedikit lonjakan pasca aksi jual. Laporan laba telah membantu,” kata Robert Pavlik, kepala strategi investasi dan manajer portofolio senior di SlateStone Wealth LLC di New York, seperti dikutip Reuters.

Namun, katanya, tidak serta merta laporan laba telah membalik keadaan pasar. Banyak pelaku pasar yang skeptis saat ini atas berbagai aksi di dalam pasar, termasuk untuk kenaikannya.

Putaran terbaru laporan yang menunjukkan hasil positif datang dari sejumlah perusahaan, termasuk Ford Motor Co., Visa Inc., Whirlpool Corp., dan Twitter Inc.

Saham Ford naik 9,9% setelah laporan labanya meningkatkan harapan untuk akhir yang kuat tahun ini, sekaligus mendorong kenaikan dalam sektor konsumen discretionary.

Hal ini memberikan kelegaan setelah musim laporan keuangan dimulai kurang bergairah dan kemudian menurun akibat prospek yang lesu dari manufaktur dan produsen chip.

Bursa saham telah dilanda aksi jual baru-baru ini di tengah kekhawatiran atas dampak tarif, meningkatnya biaya, imbal hasil obligasi, perjuangan anggaran Italia, dan pemilihan kongres AS yang akan datang.

Namun aksi jual tersebut juga membuat saham sedikit lebih murah. Valuasi S&P 500 jatuh ke level terendah dalam dua setengah tahun yakni estimasi laba 15,3 kali untuk 12 bulan ke depan dari 15,8, menurut data Refinitiv.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wall street

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top