ORI015 Laris Manis

Tingginya kupon yang ditawarkan pemerintah pada instrumen Obligasi Ritel Indonesia seri ORI015 serta semakin meningkatnya kesadaran investasi masyarakat terhadap instrumen surat utang negara mendorong penjualan ORI015 menembus Rp19 triliun.
Emanuel B. Caesario | 25 Oktober 2018 06:52 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA—Tingginya kupon yang ditawarkan pemerintah pada instrumen Obligasi Ritel Indonesia seri ORI015 serta semakin meningkatnya kesadaran investasi masyarakat terhadap instrumen surat utang negara mendorong penjualan ORI015 menembus Rp19 triliun.

Pemasaran ORI015 akan berakhir hari ini setelah dimulai sejak Kamis (4/10) awal bulan ini, atau berlangsung sepanjang 4 pekan. Instrumen ini ditawarkan dengan kupon tetap sebesar 8,25% per tahun dan tenor 3 tahun.

Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa capaian pemasaran ORI015 cukup memuaskan, bahkan melampaui kuotasi awal yang disediakan pemerintah Rp10 triliun.

“Per kemarin [nilai pemasaran ORI015] pada kisaran Rp19 triliun,” katanya, Rabu (24/10).

Adapun, hingga Selasa (16/10) pekan lalu, nilai pemasaran ORI015 baru mencapai Rp9,4 triliun. Artinya, dalam sepekan terakhir, ada penambahan pemesanan hampir Rp10 triliun. Nilai ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan ORI014 tahun lalu yang hanya Rp8,95 triliun.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa dari segi total nilai pemesanan, capaian pemasaran ORI15 ini tentu sangat memuaskan.

Hal ini tidak mengherankan, mengingat kuponnya lebih tinggi dibandingkan instrumen surat utang negara tenor 3 tahun yang kini di level 8,07%, bunga deposito bank yang rata-rata di kisaran 6%, dan kupon ORI014 tahun lalu yang hanya 5,85%.

Namun, sukses atau tidaknya pemasaran instrumen ini ditentukan oleh seberapa besar nilai pembelian rata-ratanya. Semakin kecil nilai pembelian rata-ratanya, artinya semakin banyak investor ritel yang masuk, sehingga semakin sukses  pemasaran insturmen tersebut.

“Kalau ticket size-nya kecil, artinya sasaran pemerintah tercapai, mulai banyak masyarakat yang tahu instrumen ini, mulai banyak yang beli dan ke depannya basis investor ritel akan lebih besar lagi,” katanya.

Anup mengatakan, kemungkinan terus meningkatnya suku bunga Bank Indonesia serta imbal hasil SUN di masa mendatang, akan menurunkan harga ORI015 di pasar sekunder. Hal ini sering mengagetkan investor ritel ketika ingin menjual ORI di pasar sekunder.

Sebagai investor ritel yang turut berinvestasi di ORI015, Anup memilih untuk tidak sepenuhnya hanya mengandalkan instrumen ORI015 ini saja. Dirinya menahan sejumlah investasinya untuk instrumen Sukuk Tabungan yang akan dirilis pemerintah bulan depan.

Sama seperti Saving Bond Retail (SBR), Sukuk Tabungan memiliki tingkat kupon yang bersifat mengambang. Artinya, kuponnya akan semakin tinggi seiring naiknya BI 7 Days Repo Rate, berbeda dibandingkan ORI015 yang kuponnya tetap.

Dengan asumsi spread 255 bps seperti dua seri SBR yang diterbikan tahun ini, kupon Sukuk Tabungan bulan depan akan mencapai 8,3% atau lebih tinggi dibandingkan ORI015. Bila rencana investasi investor adalah untuk ditahan hingga jatuh tempo, Sukuk Tabungan akan lebih menarik.

Menurutnya, investor ritel seharusnya memahami informasi ini sehingga bisa membagi investasinya dengan baik. Dirinya juga tidak menyarankan investor ORI015 untuk menjual instrumennya di pasar sekunder di tengah tren pasar yang akan terus melemah, tetapi menahannya hingga jatuh tempo.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa instrumen obligasi pemerintah ritel seperti ORI, SBR, Sukuk Ritel dan Sukuk Tabungan memiliki daya tarik besar sebab resikonya sangat rendah dan pajaknya lebih kompetitif.

Berbeda dibandingkan obligasi korporasi, obligasi ritel negara boleh dikategorikan bebas risiko. Sementara itu, pajaknya hanya 15%, lebih rendah dibandingkan pajak deposito 20%.

Dengan nilai investasi Rp1 miliar dan kupon 8,25% per tahun, investor ORI015 akan menikmati keuntungan Rp82,5 juta pertahun. Pajak 15% dibebankan atas keuntungan Rp82,5 juta, sehingga tersisa sekitar Rp70,12 juta. Artinya, investor akan mendapatkan keuntungan Rp5,84 juta per bulan.

Bandingkan dengan deposito yang dengan asumsi bunga 6%, dana investasi Rp1 miliar akan menghasilkan keuntungan Rp60 juta. Setelah dipangkas pajak 20%, dana yang masuk ke kantong investor adalah sebesar Rp48 juta, atau Rp4 juta per bulan.

Ramdhan mengatakan, tingginya kupon bagi obligasi ritel tentu memberatkan pemerintah. Namun, resiko ini layak ditanggung dalam upaya pendalaman pasar domestik agar tidak lagi selalu bergantung pada dana asing.

Tahun ini merupakan rekor baru bagi emisi obligsi ritel negara, sebab ada 5 instrumen ritel yang terbit. Dari tahun ke tahun, investor ritel juga mulai teredukasi tentang instrumen surat utang. Rekam jejak pemerintah juga cukup baik sehingga meningkatkan kepercayaan investor.

Dirinya meyakini, turunnya nilai maksimal investasi pada ORI015 menjadi Rp3 miliar dan nilai minimal menjadi hanya Rp1 miliar, menjadi salah satu faktor pendorong tingginya arus investasi yang masuk.

Nilai yang kecil juga lebih merepotkan bagi transaksi di pasar sekunder dengan investor institusi sehingga kemungkinan besar instrumen ORI015 akan disimpan investor hingga jatuh tempo.

 “Saya yakin ORI015 ini pure ritel karena holding periode-nya sampai 2 bulan. Ini membuat jengah investor institusi, terlalu lama, sehingga tidak menarik bagi mereka untuk ikut masuk. Sebelum ada holding periode, hampir 50% dana ORI langsung berpindah ke institusi setelah terbit,” katanya.

Reza Priyambada, Senior Analyst CSA Research Institute, mengatakan bahwa kendati penjualan ORI015 ini sudah cukup tinggi, tetapi potensi investasi masyarakat Indonesia sejatinya masih sangat tinggi. Hal ini menjadi tantangan umum pasar modal Indonesia.

Dirinya mengapresiasi langkah pemerintah untuk meningkatkan sosialisasi instrumen ini. Hanya saja, emisi ORI dari tahun ke tahun cenderung masih terfokus pada masyarakat di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra.

“Masyarakat yang tinggal di luar perkotaan juga punya potensi besar yang bisa digarap, cuma masalahnya ketidaktahuan mereka tentang investasi ini. Buktinya banyak investasi bodong yang laku di daerah-daerah ini,” katanya.

Menurutnya, pada akhirnya investor cenderung selalu mencari instrumen yang menawarkan keuntungan setinggi-tingginya dengan resiko serendah-rendahnya. Dalam momentum pasar yang kini sedang terkonsolidasi, instrumen ritel pemerintah dengan kupon yang tinggi menjadi angin segar.

Tag : Obligasi, obligasi ritel indonesia
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top