Bursa Seoul Keok Tiga Hari Beruntun Gara-Gara Ini

Indeks Kospi Korea Selatan semakin terseret dalam kondisi pasar yang bearish pada perdagangan hari ini, Kamis (25/10/2018), di tengah aksi jual saham global.
Renat Sofie Andriani | 25 Oktober 2018 16:27 WIB
Bursa Kospi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Kospi Korea Selatan semakin terseret dalam kondisi pasar yang bearish pada perdagangan hari ini, Kamis (25/10/2018), di tengah aksi jual saham global.

Berdasarkan data Bloomberg, Kospi berakhir merosot 1,63% atau 34,28 poin di level 2.063,30, setelah dibuka anjlok 2,43% atau 50,91 poin di posisi 2.046,67.

Dengan demikian, Kospi telah melemah pada perdagangan hari ketiga berturut-turut sekaligus merosot lebih dari 20% dari puncaknya yang dibukukan pada Januari.

Sebanyak 121 saham menguat, 636 saham melemah, dan 25 saham stagnan dari 782 saham yang diperdagangkan di indeks Kospi pada akhir perdagangan hari ini.

Saham yang menekan pergerakan Kospi di antaranya yaitu Hyosung Advanced Materials Corp. (-5,07%), Hyosung Heavy Industries Corp. (-5,06%), dan Hyosung TNC Co. Ltd. (-2,64%).

Saham raksasa teknologi asal Negeri Ginseng Samsung Electronics Co. Ltd. juga berakhir negatif dengan anjlok 3,64% atau 1.550 poin di level 41.000. Harga saham Samsung telah merosot 3.150 poin sejak terakhir kali mencatat kenaikan ke level 44.150 pada 17 Oktober.

Saham Samsung juga telah melemah 20% tahun ini saat sektor chip terdampak kekhawatiran seputar harga dan permintaan yang lebih lambat.

Sejalan dengan Kospi, nilai tukar won ditutup melemah 0,53% atau 6,03 poin di level 1.138,11, meskipun mampu berakhir terapresiasi 0,47% di posisi 1.132,08 pada Rabu (24/10).

Dilansir Bloomberg, negara berkekuatan ekonomi terbesar keempat di Asia tersebut terseret dalam aksi jual global setelah China, mitra dagang terbesarnya, terbelit dalam perang dagang dengan Amerika Serikat (AS), sekutu sekaligus importir utama untuk Korsel.

Di sisi lain, minimnya terobosan baru dalam negosiasi nuklir antara AS dan Korea Utara mengikis harapan untuk perusahaan-perusahaan baru di antara dua Korea, sehingga membawa banyak saham infrastruktur bernilai pasar besar turun tahun ini.

Tak hanya itu, Korsel juga melaporkan pertumbuhan ekonomi terlamban sejak 2009 pada kuartal ketiga, sedangkan bank sentral Korsel Bank of Korea (BOK) kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuannya bulan depan.

Berdasarkan data Bank of Korea pada Kamis (25/10/2018), Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat 0,6% dalam pada kuartal III dari kuartal sebelumnya (Quarter-on-Quarter/QoQ), yang juga meningkat dengan kecepatan yang sama.

Angka ini lebih rendah dari estimasi ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan pertumbuhan 0,8% QoQ. Sementara itu, dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya, PDB tumbuh 2,0%, lebih rendah dari median perkiraan ekonom sebesar 2,3%.

Angka ini merupakan laju paling lambat sejak 2009, yang sebagian karena pertumbuhan sangat kuat selama periode tahun sebelumnya.

“Kami pikir bottom [Kospi] dapat mencapai kisaran 2.040, level yang disentuh Kospi pascakrisis finansial global,” ujar Kim Daejun, analis di Korea Investment & Securities, seperti dikutip Bloomberg.

Pergerakan Indeks KOSPI

Tanggal

Level

Perubahan

25/10/2018

2.063,30

-1,63%

24/10/2018

2.097,58

-0,40%

23/10/2018

2.106,10

-2,57%

22/10/2018

2.161,71

+0,25%

19/10/2018

2.156,26

+0,37%

 Sumber: Bloomberg

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indeks kospi, korea selatan

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top