Cadangan di Pembangkit Listrik Masih Tinggi, Harga Batu Bara Melemah

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Januari 2019 ditutup melemah 0,13% atau 0,15 poin di level US$112,95 per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho | 23 Oktober 2018 08:08 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara melemah pada perdagangan Senin (22/10/2018), mengakhiri reli penguatan empat hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Januari 2019 ditutup melemah 0,13% atau 0,15 poin di level US$112,95 per metrik ton.

Adapun harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak Desember 2018 ditutup melemah 0,18% atau 0,20 poin di US$112,15 per metrik ton.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak Januari 2019 juga mengakhiri reli penguatan setelah ditutup melemah 0,49% atau 0,5 poin ke level US$101,05 per metrik ton pada Senin.

Sementara itu di Zhengzhou Commodity Exchange China, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 melemah di hari ketiga berturut-turut setelah ditutup melorot 0,89% atau 5,8 poin ke level 644,8 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

Dilansir Bloomberg, harga batu bara di China melemah di tengah reli pasar saham dan komoditas lainnya menyusul tingginya cadangan batu bara di sejumlah pembangkit listrik.

Dalam risetnya, Citic Futures mengungkapkan tingginya cadangan di pembangkit listrik tidak akan berkurang hingga pertengahan November ketika konsumsi batu bara harian diperkirakan meningkat, sehingga membatasi potensi kenaikan dalam jangka pendek.

Cadangan di enam pembangkit utama China meningkat 2,6% menjadi 15,5 juta ton per hari pada Jumat (19/10), rekor tertinggi data Sumber Daya Batubara China sejak Januari 2015

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) masih mengakhiri pergerakannya di bawah level US$70 per barel pada sesi perdagangan keempat berturut-turut, di tengah isu geopolitik yang membelit Arab Saudi dan ekspansi jumlah persediaan minyak mentah di AS.

Pada perdagangan Senin (22/10/2018), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November ditutup di level US$69,17 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak WTI untuk kontrak teraktif Desember berakhir di level US$69,36.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Desember naik tipis 5 sen dan berakhir di level US$79,83 per barel di ICE Futures Europe exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$10,47 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih meredakan kekhawatiran bahwa eksportir minyak terbesar dunia itu akan menahan pasokan demi menghadapi sanksi yang datang dari kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Namun, setiap gangguan terhadap output dari Saudi atau produsen besar lainnya akan ditahan oleh produsen AS yang telah memompa lebih dari 10,5 juta barel per hari sejak April.

Stok minyak mentah AS kemungkinan bertambah 3 juta barel pekan lalu menuju kenaikan beruntun terpanjang sejak Maret 2017, menurut survei Bloomberg.

“Pasar tampaknya berada dalam semacam pola menahan,” kata Thomas Finlon, direktur Energy Analytics Group LLC.

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

18 Oktober

111,95

(+1,91%)

17 Oktober

109,85                   

(+1,81%)

16 Oktober

107,90

(+0,56%)

15 Oktober

107,30

(-0,05%)

12 Oktober

107,35

(-0,28%)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top