Hadapi Isu Cuaca, Harga Kontrak Komoditas Biji-bijian Menghijau

Harga komoditas biji-bijian menguat setelah adanya ekspektasi penguatan permintaan bersamaan dengan hadirnya musim hujan yang diprediksi bisa menurunkan produksi.
Mutiara Nabila | 03 Oktober 2018 20:03 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas biji-bijian menguat setelah adanya ekspektasi penguatan permintaan bersamaan dengan hadirnya musim hujan yang diprediksi bisa menurunkan produksi.

Adapun, harga seluruh biji-bijian di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) menghijau, dengan adanya hasil negosiasi terbaru antara AS, Meksiko, dan Kanada 'US–Mexico–Canada Agreement' (USMCA) untuk menggantikan Pakta perdagangan Amerika Utara (NAFTA).

Selain itu, jagung dan kedelai mendapat dorongan tambahan dari lonjakan pasar gandum, yang berbalik dari tren penurunan harga dan melonjak hingga lebih dari 2% karena kekhawatiran akan kemungkinan tekanan pada pasokan di dua wilayah pengekspor gandum terbesar di Rusia.

Presiden Global Commodity Analytics Mike Zuzolo menuturkan bahwa kenaikan permintaan biji-bijian saat ini mulai berperan, ditambah dengan keputusan USMCA, dan musim hujan pada musim panen depan.

Departemen Pertanian AS (USDA) mengatakan, panen jagung dan kedelai ke depan akan tetap dalam laju normal. Akan tetapi, adanya musim hujan di wilayah Midwest kemungkinan akan menahan jumlah produksi.

“Outlook untuk 11 – 20 hari ke depan akan ada hujan total dan kekhawatiran akan terjadi banjir, terutama di sabuk pertanian jagung di Midwest,” papar Zuzolo, dikutip dari Reuters, Rabu (3/10/2018).

Pada perdagangan Rabu (3/10), harga jagung menghijau 0,25 poin atau 0,07% menjadi US$367,75 sen per bushel, titik tertinggi selama 3 pekan.

Selanjutnya, harga gandum juga menghijau 0,50 poin atau 0,10% menjadi US$519,75 sen per bushel. Kemudian, harga kedelai turut terkerek 3,75 poin atau 0,43% menjadi US$869,75 sen per bushel, berada di puncak selama 5,5 pekan.

Hanya saja, kenaikan harga jagung dan kedelai masih tertahan oleh jumlah pasokan di AS dan global yang masih sangat besar. Adapun, panen kedelai Brasil untuk 2018 - 2019 mencapai rekor 120,4 juta ton.

Perdagangan berjangka gandum berbalik dari pelemahan karena adanya kekhawatiran tentang tekanan pada pembongkaran muatan gandum di Rusia sebagai pengekspor gandum terbesar di dunia.

Pengawas keamanan ekspor pertanian Rusia memperingatkan bahwa ada 30 titik lokasi bongkar muat di dua wilayah ekspor Rusia akan sementara dihentkan hingga 90 hari karena adanya pelanggaran aturan kebersihan.

Tag : komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top