Pembuat Kebijakan Turki Dianggap Lambat, Aset Negara Anjlok

Nilai tukar lira Turki kembali anjlok dan obligasi pemerintahnya merosot di tengah kekhawatiran bahwa otoritas negaranya tidak melakukan upaya yang cukup untuk menopang kenaikan harga-harga barang konsumsi.
Mutiara Nabila | 03 Oktober 2018 21:01 WIB
Uang lira Turki. - Reuters/Murad Sezer

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar lira Turki kembali anjlok dan obligasi pemerintahnya merosot di tengah kekhawatiran bahwa otoritas negaranya tidak melakukan upaya yang cukup untuk menopang kenaikan harga-harga barang konsumsi.

Lira melemah 1,11% di hadapan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintahnya untuk tenor 10 tahun melonjak hingga lebih dari 100 basis poin setelah inflasinya terpacu ke 24,5% pada September. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan tertinggi dari sejumlah analis.

Ketika lira sudah menunjukkan kestabilan setelah bank sentralnya menaikkan suku bunga hingga 24% pda bulan lalu, cukup membantu obligasi pemerintahnya reli. Banyak analis dan investor yang mengkritik pembuatan kebijakan Turki yang dianggap menunggu terlalu lama untuk beraksi.

Menurut ahli strategi di BlueBay Asset Management Timothy Ash menyatakan bahwa data inflasi pada Rabu (3/10) menggarisbawahi bahwa pembuat kebijakan Turki kian kacau sepanjang tahun ini.

Ash menuturkan bahwa investor mungkin akan tetap menghindari lira sebagai aset hingga hubungan diplomatik antara AS dan Turki mencair, dengan fokus utama tentang pengadilan lanjutan kepada pendeta AS yang dipenjarakan Andrew Brunson pada 12 Oktober mendatang.

“Jika tidak ada kabar baik, maka tekanan pada bank sentral Turki akan semakin ekstrim,” tambahnya, dilansir dari Bloomberg, Rabu (3/10/2018).

Setelah sempat menyentuh 6,09 lira per dolar AS, lira csempat menguat ke posisi 6,051 lira per dolar AS. Imbal hasil Turki tenor 10 tahun juga 112 basis poin lebih tinggi di posisi 19,42%.

Tag : turki
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top