Rupiah Lawan Tekanan Dolar AS di Pengujung Pekan

Efek jurus baru yang dilemparkan Bank Indonesia (BI) dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tampak mampu membendung gempuran penguatan dolar AS di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (28/9/2018).
Renat Sofie Andriani | 28 September 2018 18:59 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Efek jurus baru yang dilemparkan Bank Indonesia (BI) dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tampak mampu membendung gempuran penguatan dolar AS di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (28/9/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot rebound dengan berakhir terapresiasi 20 poin atau 0,13% di level Rp14.903 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Kamis (27/9), rupiah ditutup terdepresiasi 12 poin di posisi 14.923.

Padahal, mata uang Garuda sempat melanjutkan pelemahannya setelah dibuka melemah 21 poin atau 0,14% di level Rp14.944 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif pada level Rp14.894 – Rp14.946 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,377 poin atau 0,40% ke level 95,271 pada pukul 17.53 WIB.

Indeks dolar sebelumnya dibuka dengan kenaikan 0,123 poin atau 0,13% di level 95,017, setelah berakhir menguat 0,701 poin atau 0,74% di posisi 94,894 pada Kamis (27/9).

Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan mengenai transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam rangka mendukung upaya stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar valuta asing domestik, dan memitigasi risiko nilai tukar rupiah.
 
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly sudah menandatangani payung hukum soal DNDF tersebut pada hari ini.
 
“Jika sudah ditandatangani, berarti sudah diundangkan dan artinya sudah berlaku mulai hari ini,” ujar Perry, seperti dilansir Bisnis.com.
 
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah sebelumnya mengatakan, pasar DNDF ini dimaksudkan untuk mengimbangi pasar NDF offshore yang selama ini dinilai menjadi pemicu gejolak nilai tukar rupiah.

Bersama rupiah, mata uang lainnya di Asia mayoritas menguat petang ini, dipimpin won Korea Selatan dan peso Filipina masing-masing 0,31% dan 0,22%.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang di Asia sebagian besar menguat setelah dua bank sentral di kawasan tersebut mengerek suku bunga acuan pekan ini untuk mempertahankan valuta asingnya di tengah kenaikan imbal hasil AS.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 26-27 September 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate 25 bps menjadi level 5,75%. Seperti halnya Indonesia, bank sentral Filipina telah menaikkan suku bunga acuannya.

Sebelumnya, pada pertemuan kebijakan moneter yang berakhir Rabu (26/9), para pembuat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengerek suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 2%-2,25%.

The Fed juga mempertahankan rencana untuk terus memperketat kebijakan moneter di tengah optimisme atas perekonomian AS, dengan memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada bulan Desember, tiga kali kenaikan pada tahun depan, dan satu kali pada 2020.

Menurut laporan Fitch Solutions Macro Research, BI diperkirakan akan terus memperketat kebijakan moneternya hingga tahun depan untuk menjaga daya tarik di tengah proyeksi kenaikan suku bunga Fed lebih lanjut.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top