Kenaikan Yield US Treasury: Capital Outflow Berpotensi Kembali Terjadi

Meningkatnya yield US Treasury hingga menembus level 3,1% berpotensi kembali menekan pasar obligasi dalam negeri yang perlahan sudah mulai membaik dalam beberapa hari terakhir.
Emanuel B. Caesario | 26 September 2018 07:16 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Meningkatnya yield US Treasury hingga menembus level 3,1% berpotensi kembali menekan pasar obligasi dalam negeri yang perlahan sudah mulai membaik dalam beberapa hari terakhir.

Yield US Treasury tenor 10 tahun sudah bergerak pada kisaran 3% dalam 6 hari perdagangan terakhir. Per Selasa (25/9), posisinya sudah menembus 3,1%. Pada saat yang sama, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun cenderung menguat sejak pekan lalu hingga sempat kembali ke 8,1%.

Siswa Rizali, Presiden Direktur Asanusa Asset Management, mengatakan bahwa terlepas dari sentimen akan adanya Federal Open Market Committee (FOMC) meeting yang berpotensi menghasilkan keputusan kenaikan suku bunga The Fed, kenaikan yield US Treasury saat ini erat hubungannya dengan quantitative tightening (QT) dan defisit anggaran Amerika Serikat.

Dalam kondisi seperti ini, sulit berharap arus modal masuk yang kini mulai terjadi di pasar Indonesia akan tetap stabil. Sejak Jumat (14/9) hingga Senin (24/9) arus masuk investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) sudah mencapai Rp10,42 triliun.

Siswa mengatakan, sepanjang tahun ini The Fed sudah mengurangi neracanya mencapai sekitar US$230 miliar atau sekitar US$25 miliar per bulan. Kini, neraca The Fed tinggal US$4,2 triliun.

Di sisi lain, defisit anggaran pemerintah AS tahun ini kini diestimasikan meningkat sebesar US$242 miliar dibandingkan proyeksi awal pada 2017 lalu. Perubahan itu disebabkan oleh pengurangan pendapatan negara senilai US$194 miliar terutama akibat UU Pajak 2017 yang memangkas pajak penghasilan individu dan perusahaan.

Siswa mengatakan, peningkatan defisit memaksa pemerintah Amerika Serikat menerbitkan lebih banyak surat utang. Akibat QT dari The Fed, pemerintah harus menaikkan yield semakin tinggi agar diminati investor lainnya.

“Kalau likuiditas yang ada sedikit karena QT The Fed, sedangkan permintaannya lebih banyak, berarti kita kan harus berkompetisi dengan Amerika Serikat untuk mencari pinjaman. Tentu, tidak akan mudah bagi kita,” katanya, Selasa (25/9/2018).

Meskipun kondisi pasar dalam negeri secara umum positif, arus keluar investor asing tetap tidak akan terbendung sehingga akan menekan yield SUN dan nilai tukar rupiah. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai negara berkembang dengan peringkat yang jauh lebih rendah dari AS.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pasar dalam negeri selama sepekan terakhir relatif stabil di tengah yield US Treasury yang sudah bergerak pada level 3%.

Menurutnya, pasar kini lebih tenang menyikapi pergerakan yield US Treasury, sedangkan investor asing tidak terlalu agresif keluar dari pasar domestik, bahkan justru cenderung kembali masuk. Hal ini menyebabkan tekanan di pasar tidak terlalu besar, meskipun belum bisa berharap harga SUN akan menguat signifikan.

“Dianjurkan investor lokal untuk terus masuk dalam kondisi seperti ini karena penguatan pasar kita harusnya ditopang investor lokal. Saat ini kelihatan masih banyak ragu sehingga harus digerakkan, terutama oleh investor institusi negara atau BUMN yang besar-besar,” katanya.

Ramdhan menilai, pekerjaan rumah bagi otoritas pasar dan pemerintah Indonesia saat ini adalah menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah tekanan arus modal keluar. Menurutnya, pasar akan kembali positif selama nilai tukar rupiah tetap stabil.

Dalam perkembangan lain, lelang SUN yang digelar pemerintah pada Selasa (25/9) juga mengalami banjir peminat, yakni mencapai Rp51,5 triliun. Nilai ini melonjak dibandingkan lelang SUN 2 pekan sebelumnya yang tercatat Rp36,9 triliun.

Permintaan tertinggi masih pada seri pasar uang, yakni SPN 3 bulan senilai Rp15 triliun dan SPN 9 bulan Rp9 triliun.

Selebihnya, permintaan terkonsentrasi pada 2 seri SUN baru yang akan menjadi seri acuan tahun depan, yakni FR0077 (tenor 5 tahun) RP11,19 triliun dan FR0078 (tenor 10 tahun) Rp12,2 triliun. Sementara itu, seri FR0065 (15 tahun) hanya mendulang Rp2,94 triliun dan FR0075 (20 tahun) Rp1,18 triliun.

Pemerintah memutuskan menyerap hingga batas target tertinggi, yakni Rp20 triliun. Penyerapan tertinggi adalah pada 2 seri SUN baru, masing-masing FR0077 senilai Rp5,2 triliun dan FR0078 Rp7,95 triliun.

Pemerintah menetapkan kupon sebesar 8,125% untuk FR0077 dan 8,250 untuk FR0078. Sementara itu, yield yang dimenangkan untuk kedua seri tersebut masing-masing FR0077 sebesar 8,21987% dan FR0078 sebesar 8,26937%.

“Masih besarnya penawaran investor dalam lelang ini mencerminkan sebenarnya minat investor masih sangat tinggi terhadap pasar obligasi kita di tengah kondisi global seperti saat ini. Orang mulai mengumpulkan dua seri acuan tahun depan tentunya untuk persiapan,” katanya. 

Tag : Obligasi, surat utang negara
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top