Rekomendasi Obligasi: Pasar Melemah Merespons Kenaikan Yield US Treasury

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa secara umum harga surat utang negara atau SUN di pasar sekunder pada hari ini secara umum diprediksi menurun dibandingkan hari sebelumnya merespon kenaikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan jelang lelang SUN. 
Emanuel B. Caesario | 25 September 2018 09:13 WIB
Obligasi
Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa secara umum harga surat utang negara atau SUN di pasar sekunder pada hari ini secara umum diprediksi menurun dibandingkan dengan hari sebelumnya merespons kenaikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan jelang lelang SUN. 
Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa selain faktor tersebut, proyeksi turunnya harga SUN juga didorong oleh proyeksi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah kenaikan indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia.  
"Dengan pertimbangan proyeksi tingginya yield yang dimenangkan dan adanya potensi kenaikan harga SUN dalam jangka pendek, kami menyarankan investor untuk berpartisipasi di dalam lelang SUN kali ini khususnya untuk seri baru," katanya dalam riset harian, Selasa (25/9/2018).
Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:
FR0063 (15 Mei 2023):  90,20 (8,21%) -  90,50  (8,12%)
FR0064 (15 Mei 2028):  85,75 (8,30%) -  86.35  (8,20%)
FR0065 (15 Mei 2033):  84,30 (8,52%) -  85,30  (8,39%)
FR0075 (15 Mei 2038):  87,90 (8,80%) -  89,00  (8,67%)
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak pada kisaran Rp14.860  – Rp14.920 dengan potensi melemah.
Dhian merekomendasikan beli seri FR0077 & FR0078 melalui lelang dan membeli FR0063 & FR0064 di pasar sekunder.
Sementara itu, pada perdagangan kemarin harga SUN secara umum menurun. 
Rata - rata penurunan harga SUN untuk kategori tenor pendek adalah sebesar 4,10 bps, sedangkan untuk kategori SUN tenor menengah dan panjang mengalami rata-rata penurunan harga masing-masing sebesar 16,86 bps dan 13,34 bps. 
Dengan demikian, yield SUN secara umum meningkat di mana untuk kategori benchmark 10 tahun meningkat ke level 8,16% dibandingkan dengan akhir pekan lalu sebesar 8,10%. 
Turunnya harga SUN pada perdagangan terakhir didorong oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 0,33% ke level Rp14.866 pasca-rilis data PMI Manufaktur AS yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pasar dan jelang pertemuan FOMC minggu ini. 
Selain itu, sentimen jelang lelang SUN juga mendorong penurunan harga SUN di pasar sekunder kemarin. Jelang lelang SUN juga mendorong transaksi obligasi pemerintah menurun baik secara nominal maupun frekuensi transaksi. 
Yield US Treasury 10 tahun dan indeks dolar AS meningkat.  Investor global tampaknya mengantisipasi sentimen negatif jelang pertemuan FOMC minggu ini, yang tercermin dari kenaikan yield US Treasury 10 tahun  ke level 3,09% pada perdagangan global semalam. 
Selain itu, indeks dolar AS juga ditutup meningkat dibandingkan dengan hari sebelumnya ke level 94,23 poin (sebelumnya 94,19 poin) jelang pertemuan FOMC namun dibatasi oleh penguatan Euro pasca  pernyataan hawkish dari Mario Draghi.
Harga minyak mentah dunia meningkat signifikan.  Pada perdagangan terakhir, harga minyak mentah kategori WTI mencapai level sekitar $72,08 per barel atau tertinggi sejak Juli lalu.
Sementara itu, untuk kategori brent mencapai level sekitar $81,20 per barel (tertinggi sejak November 2014) setelah pada pertemuan anggota OPEC dan beberapa anggota Non OPEC pada akhir pekan lalu tidak mencapai kesepakatan terkait penambahan output produksi minyak mentah dan juga seiring kekhawatiran terkait berkurangnya suplai minyak mentah jelang  penetapan embargo ekonomi khususnya ekspor minyak mentah Iran oleh AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top