China Batalkan Rencana Pembicaraan Tarif, Bursa Asia Goyah

Nilai tukar mata uang yen menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (24/9/2018), setelah China membatalkan rencana pembicaraan tarif dengan Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 24 September 2018 09:20 WIB
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar mata uang yen menguat sedangkan bursa saham Asia melemah pada perdagangan pagi ini, Senin (24/9/2018), setelah China membatalkan rencana pembicaraan tarif dengan Amerika Serikat (AS).

Hal ini kembali mendorong tensi perdagangan antara dua negara berkekuatan ekonomi besar tersebut sekaligus mengangkat daya tarik mata uang safe haven.

Indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 0,3%, dengan bursa saham Australia turun 0,25% dan indeks saham acuan New Zealand melemah 0,6%.

Fokus investor tertuju kembali pada perang perdagangan China-AS setelah Tiongkok menambahkan produk-produk AS senilai US$60 miliar ke dalam daftar tarif impornya, membalas pemberlakuan bea masuk terhadap impor China senilai US$200 miliar efektif mulai hari ini.

China juga membatalkan rencana diskusi perdagangannya dengan Amerika Serikat, serta usulan kunjungan ke Washington oleh Wakil Perdana Penteri Liu He yang awalnya dijadwalkan untuk pekan ini, seperti dilaporkan Wall Street Journal.

Amerika Serikat, di sisi lain, belum menetapkan tanggal untuk diskusi perdagangan lebih lanjut. Meningkatnya pertikaian antara China dan AS, seperti diketahui, telah mencemaskan pasar keuangan.

Sebagian besar aktivitas perdagangan hari ini terlihat dalam mata uang saat pasar keuangan di Jepang, China, dan Korea Selatan ditutup karena liburan.

Yen Jepang, yang mengalami peningkatan pembelian selama periode krisis, menguat ke level 112,5 yen per dolar AS sedangkan dolar Australia, yang sensitif terhadap isu perdagangan, tergelincir dari level tertingginya dalam 3,5 pekan ke US$0,7274.

"Masalahnya adalah masih terlihat eskalasi lebih lanjut karena kedua belah pihak masih berselisih mengenai sejumlah isu penting,” jelas Kepala Ekonom AMP Shane Oliver, seperti dikutip Reuters.

"Trump tetap menentang mengatakan 'sudah waktunya untuk mengambil posisi terhadap China' dan ancamannya untuk menaikkan tarif atas semua impor dari China tetap ada,” tambah Oliver.

Meski demikian, ia tetap optimis tentang pertumbuhan China mengingat pihak otoritas Negeri Tirai Bambu menyusun stimulus kebijakan untuk mengimbangi dampak ekonomi dari tarif AS.

Perdana Menteri China Li Keqiang pada akhir pekan mengatakan China akan memangkas biaya impor dan ekspor untuk perusahaan-perusahaan asing seiring dengan upayanya untuk mempromosikan citra terbuka untuk bisnis.

Sementara itu, harga minyak melonjak setelah sejumlah produsen minyak termasuk Rusia mengesampingkan peningkatan produksi minyak mentah.

Harga minyak naik setelah seorang pemimpin Arab Saudi di OPEC secara efektif menolak seruan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil langkah menurunkan harga minyak.

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top