PASAR SUN: Faktor Global Masih Dominan, Berikut Prediksi Pergerakannya Sepanjang Pekan Ini

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pada pekan ini, yield SUN 10 tahun akan bergerak pada rentang  8,16% — 8,30%.
Emanuel B. Caesario | 24 September 2018 09:19 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa pada pekan ini, yield SUN 10 tahun akan bergerak pada rentang  8,16% — 8,30%.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa proyeksi tersebut berdasarkan asumsi dua determinan yield SUN 10 tahun yaitu yield US Treasury 10 tahun yang diperkirakan bergerak pada rentang  3,03% - 3,09% dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diprediksi berada pada kisaran Rp14.815 - Rp14.900. 

Meskipun demikian, investor perlu memperhatikan pergerakan rupiah di tengah agresifnya intervensi Bank Indonesia (BI). 

Sentimen utama pekan ini berasal dari pertemuan FOMC yang akan dilaksanakan pada 26-27 September 2018, waktu setempat, di mana sejauh ini probabilitas (berdasarkan indikator FedWatch Tool CME Group) kenaikan suku bunga acuan The Fed (FFR) ke level 2% - 2,25% atau ketiga kalinya di tahun ini telah mencapai 92%.  

Meskipun pasar tampaknya sudah mengantisipasi (price-in) kenaikan FFR ketiga kalinya tersebut, secara historis menunjukkan bahwa yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan indeks dolar AS cenderung meningkat jelang pertemuan FOMC yang artinya ada potensi yield SUN ikut meningkat atau harga SUN turun. 

"Namun demikian, investor bisa memanfaatkan momentum penurunan harga jelang pertemuan FOMC tersebut untuk melakukan pembelian SUN secara bertahap khususnya melalui lelang untuk kemudian memperoleh capital gain pasca RDG BI," kata Dhian dalam riset harian, Senin (24/9/2018).

Dhian mengatakan, hal tersebut dikarenakan, pasar memprediksi (berdasarkan konsensus Bloomberg) suku bunga acuan BI akan kembali dinaikkan sebesar 25 bps ke level 5,75%  yang berpotensi membuat rupiah menguat terhadap dolar AS dalam jangka pendek yang pada akhirnya diikuti oleh kenaikan harga SUN di pasar sekunder pascakenaikan BI-7DRRR. 

Adapun, perincian sentimen dan proyeksi arah harga SUN di pasar sekunder pada minggu ini adalah sebagai berikut:

Senin: Harga SUN di pasar sekunder berpotensi melemah yang utamanya didorong oleh proyeksi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pasca data PMI Manufaktur AS yang  dirilis lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi pasar di level 55.6 poin (konsensus: 55 poin).

Selasa: Harga SUN di pasar sekunder berpotensi untuk melanjutkan pelemahan didorong oleh sentimen jelang lelang SUN.

Rabu: Harga SUN di pasar sekunder diperkirakan cenderung bervariasi di mana sentimen positif diperkirakan berasal dari hasil lelang SUN yang berpotensi mencatatkan incoming bidslebih tinggi dibandingkan dengan lelang SUN sebelumnya sedangkan sentimen negatif berasal dari antisipasi pasar jelang  pertemuan FOMC.

Kamis: Harga SUN di pasar sekunder masih berpotensi melemah merespon hasil pertemuan FOMC dan rilis outlook ekonomi AS oleh The Fed.  Meskipun demikian, pelemahan harga SUN diperkirakan dibatasi oleh proyeksi kenaikan BI-7DRRR dalam RDG Bank Indonesia.

Jumat: Harga SUN di pasar sekunder diperkirakan bervariasi dengan kecenderungan menguat. Sentimen positif diperkirakan berasal dari kenaikan BI-7DRRR yang membuat rupiah menguat dalam jangka pendek. Sementara itu, sentimen negatif diperkirakan berasal dari rilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal 2 tahun ini.
 

Tag : Obligasi, surat utang negara
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top