Pasar Obligasi: Rupiah Berpotensi Menguat, Harga SUN Naik

Di tengah menurunnya kekhawatiran terkait dengan risiko perang dagang, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga SUN di pasar sekunder hari ini, Kamis (20/9/2018) kembali menguat dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Emanuel B. Caesario | 20 September 2018 10:32 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Di tengah menurunnya kekhawatiran terkait dengan risiko perang dagang, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga SUN di pasar sekunder hari ini, Kamis (20/9/2018) kembali menguat dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, memperkirakan bahwa kenaikan harga SUN juga diperkirakan didorong oleh proyeksi menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini.

"Jelang momen pertemuan FOMC dan adanya lelang SUN minggu depan, investor disarankan untuk melakukan profit taking di tengah proyeksi kenaikan harga SUN hari ini karena secara historis jelang pertemuan FOMC maupun lelang SUN potensi turunnya harga SUN di pasar sekunder meningkat," katanya dalam riset harian, Kamis (20/9/2018).

Berikut ini adalah proyeksi pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini:

FR0063 (15 Mei 2023): 90,40 (8,14%) - 90,80 (8,03%)
FR0064 (15 Mei 2028): 86,05 (8,25%) - 86,85 (8,11%)
FR0065 (15 Mei 2033): 84,25 (8,53%) - 85,10 (8,41 %)
FR0075 (15 Mei 2038): 88,00 (8,79%) - 88,75 (8,70%)

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif pada rentang Rp14.815 – Rp14.900 dengan kecenderungan menguat.

"Kami merekomendasikan jual FR0059, FR0064, FR0065, FR0075, dan FR0072," katanya.

Review Perdagangan Kemarin

Menurunnya kekhawatiran terkait perang dagang mendorong anomali pergerakan harga SUN di pasar sekunder kemarin.

Meski yield US Treasury 10 tahun pada perdagangan sebelumnya (penutupan Selasa) tembus ke level 3% dan rupiah ditutup melemah sebesar 0,14% ke level Rp14.875, harga SUN secara umum di pasar sekunder justru mengalami penguatan sekaligus melanjutkan penguatan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.

Rata-rata kenaikan harga SUN di pasar sekunder kemarin untuk kategori tenor pendek adalah sebesar 19,56 bps sementara untuk kategori tenor menengah dan panjang masing-masing mengalami rata-rata kenaikan sebesar 40,77 bps dan 53,43 bps.

Peningkatan yang terjadi pada harga SUN di pasar sekunder didorong oleh menurunnya kekhawatiran pasar terkait perang dagang setelah Trump menetapkan tarif impor terhadap produk Tiongkok senilai US$200 miliar hanya sebesar 10% dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar 25% meski pada akhir tahun ini tarif tersebut akan meningkat menjadi 25%.

Bauran sentimen antara sentimen negatif dari kenaikan yield US Treasury dan melemahnya rupiah terhadap dolar AS dengan sentimen positif dari meredanya kekhawatiran perang dagang, mendorong spread antara bid dan offer harga SUN melebar pada perdagangan pasar sekunder kemarin.

Seiring dengan kenaikan harga SUN tersebut, yield SUN secara umum mengalami penurunan di mana khusus benchmark 10 tahun turun ke level 8,21% dibandingkan hari sebelumnya sebesar 8,35%.

Kenaikan harga SUN pada perdagangan terakhir juga mendorong kenaikan transaksi obligasi pemerintah dari sisi nominal maupun frekuensi di mana SUN tenor menengah dan panjang mendominasi kedua kategori tersebut.

Di pasar global, yield US Treasury kembali meningkat sementara indeks dolar AS menurun terbatas. Sentimen dari redanya kekhawatiran terhadap perang dagang masih mendominasi perdagangan global semalam di tengah minimnya rilis data krusial ekonomi AS.

Hal tersebut mendorong turunnya minat terhadap aset safe haven seperti US Treasury dan dolar AS yang pada akhirnya mendorong yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun meningkat ke level 3,06%, sedangkan indeks dolar AS ditutup turun tipis ke level 94,55 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya waktu setempat di level 94,63 poin.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top