Bank Sentral Turki Dongkrak Suku Bunga, Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat (14/9/2018), saat langkah yang dilancarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan serta kenaikan suku bunga yang tajam di Turki mendorong daya tarik aset berisiko.
Renat Sofie Andriani | 14 September 2018 08:58 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat (14/9/2018), saat langkah yang dilancarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan serta kenaikan suku bunga yang tajam di Turki mendorong daya tarik aset berisiko.

Dilansir dari Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang menguat 0,4%, menyusul penguatan bursa saham AS semalam. Adapun bursa saham Australia naik 0,5% dan indeks Nikkei Jepang menguat 0,9%.

Pada Kamis (13/9), ndeks S&P 500 ditutup menguat 0,53% di level 2.904,18, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,57% di level 26.145,99, sedangkan indeks Nasdaq Composite berakhir menanjak 0,75% di level 8.013,71.

Dow Jones ditutup pada level tertinggi sejak 1 Februari dan hanya 1,8% di bawah rekor yang dibukukan pada 26 Januari. Adapun S&P 500 dan Nasdaq telah bergerak melewati puncaknya pada Januari dengan mencatat rekor tertinggi beberapa pekan sebelumnya.

Pergerakan bursa saham global telah ditopang kabar tentang prospek putaran baru pembicaraan perdagangan antara AS dan China, bahkan ketika sentimen perang perdagangan antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia ini tampak akan meningkat.

Sejumlah pejabat China menyambut undangan yang disampaikan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin untuk mengadakan pembicaraan baru. Namun pada Kamis (13/9), Presiden AS Donald Trump menekan ekspektasi pasar, dengan menuliskan dalam Twitter bahwa AS "tidak dalam tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China."

Pemerintahan Trump diketahui telah mempersiapkan daftar final barang-barang impor China senilai US$200 miliar untuk dikenakan tarif. Jika terwujud, maka langkah ini dapat menandai eskalasi hebat dalam perang perdagangan dan berdampak pada pertumbuhan global.

"Berita pada hari Rabu bahwa para pejabat AS telah mengundang China untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan menunjukkan pengumuman tarif terhadap impor China senilai US$200 miliar mungkin ditunda. Namun kami pikir peluang bahwa pembicaraan baru akan meredakan ketegangan perdagangan terlihat rendah,” ujar analis Capital Economics dalam risetnya.

Ketidakpastian seputar tensi perdagangan disoroti oleh Bank Sentral Eropa (ECB), yang pada Kamis (13/9) mempertahankan kebijakan moneternya serta memperingatkan bahwa risiko dari proteksionisme semakin menonjol.

Namun, langkah bank sentral Turki membantu mendukung sentimen di pasar negara berkembang, dengan secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 625 basis poin, menjadi 24%. Mata uang lira pun melonjak.

Seperti diketahui, krisis mata uang baik di Turki maupun Argentina telah memicu kekhawatiran meluasnya pergolakan di emerging market selama beberapa pekan terakhir, sekaligus memukul aset-aset pasar berkembang mulai dari Indonesia, India hingga Afrika Selatan.

Tag : bursa asia, perang dagang AS vs China
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top