Kiwoom Sekuritas: Tanpa Sentimen Positif, Pasar Obligasi Masih Berpotensi Melemah

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas pada Kamis (13/9/2018).
Emanuel B. Caesario | 13 September 2018 08:15 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas pada Kamis (13/9/2018).
 
Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan ini juga dikonfirmasi oleh analisis teknikal yang menunjukkan tanda pelemahan pada pagi ini. 
 
Menurutnya, pekan ini juga merupakan pekan yang cukup krusial mengingat data inflasi AS akan keluar nanti malam, yang diikuti dengan Federal Reserve Releases Beige Book dan Initial Jobless Claims. Kedua data ini cukup menentukan karena akan menambah probabilitas kenaikan Fed Rate pada bulan ini. 

Federal Reserve Releases Beige Book adalah laporan kondisi ekonomi terkini AS yang diterbitkan oleh The Fed delapan kali dalam setahun. Sementara itu, Initial Jobless Claims menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran di AS. 
 
Selain itu, nanti malam juga ada pengumuman tingkat suku bunga dari European Central Bank (ECB).
 
"Kami masih memperkirakan tidak akan berubah, tapi rencana tappering off yang akan dilakukan tahun depan semoga bisa segera disampaikan sehingga para pelaku pasar dapat mempersiapkan kombinasi portfolio dengan baik," paparnya dalam riset harian, Kamis (13/9). 
 
Sejauh ini, Nico memproyeksi pasar obligasi masih akan terus melemah, khususnya beberapa pekan sebelum diadakannya pertemuan The Fed. 
 
"Kami merekomendasikan hold hari ini, pergerakan obligasi yang melebihi 45 bps akan menjadi arah pasar obligasi hari ini," lanjutnya.
 
Pada perdagangan Rabu (12/9), total transaksi dan frekuensi naik dibandingkan hari sebelumnya di tengah hadirnya lelang yang diadakan pemerintah. 

Kemarin, seri yang dilelang adalah SPN03181213 (new issuance), SPN12190913 (new issuance), FR0063 (reopening), FR0064 (reopening), FR0065 (reopening), FR0075 (reopening), dan FR0076 (reopening). Target indikatifnya adalah Rp10 triliun.
 
Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi 3-5 tahun, diikuti dengan 7-10 tahun dan 10-15 tahun. Sisanya, transaksi terjadi hingga durasi di atas 25 tahun. 
 
Para pelaku pasar dan investor dinilai masih cukup optimistis dengan pasar obligasi. Total penawaran lelang yang masuk hingga Rp36 triliun merupakan indikator yang bagus di tengah penurunan harga obligasi saat ini. 
 
"Para pelaku pasar dan investor masih memiliki kepercayaan terhadap imbal hasil obligasi," tutur Nico.
 
Di pasar global, imbal hasil obligasi zona Amerika ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikan terbesar ada di Chile dengan 4,79%, sedangkan penurunan tertinggi ada di Brazil yang merosot 12,3%.
 
Imbal hasil wilayah zona Eropa ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan yield. Kenaikan terbesar tercatat di Italia yang meningkat 2,94%, sedangkan penurunan terbesar terjadi di Portugal yang turun 1,85%.
 
Imbal hasil Asia Pasifik juga ditutup bervariasi, didominasi oleh kenaikan imbal hasil. Kenaikan tertinggi terjadi di Filipina yang meningkat 6,77% dan penurunan terbesar tercatat di India sebesar 8,14%.
 
Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup melemah di posisi 8,61% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 8,57%.

Tag : Obligasi, Kebijakan The Fed
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top