IHSG & Rupiah Terseret Faktor Global Jelang Akhir Pekan

Eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (31/8/2018).
Renat Sofie Andriani | 31 Agustus 2018 17:59 WIB
Karyawan melakukan swafoto di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/8/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (31/8/2018).

IHSG ditutup turun tipis 0,01% atau 0,50 poin di level 6.018,46, setelah berakhir melemah 0,76% atau 46,18 poin di posisi 6.018,96 pada perdagangan Kamis (30/8). IHSG sempat terlempar ke level 5.940 setelah dibuka melemah 0,56% atau 34 poin di level 5.984,96 pagi tadi.

Namun, indeks mampu mengikis hampir seluruh pelemahannya dan kembali menghuni level 6.018. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.940,65 – 6.018,46.

Sektor aneka industri (-2,45%) dan properti (-1%) memimpin pelamahan empat dari sembilan sektor pada IHSG. Adapun lima sektor lainnya mampu menetap di zona hijau sekaligus membatasi pelemahan IHSG, dipimpin sektor industri dasar yang menguat 1,3%.

Dari 601 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 146 saham menguat, 228 saham melemah, dan 227 saham stagnan. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi penekan utama terhadap koreksi IHSG hari ini.

Berbanding terbalik dengan IHSG, indeks Bisnis 27 mampu rebound dan berakhir di zona positif dengan kenaikan 0,09% atau 0,47 poin di level 528,59, setelah dibuka melemah 0,74% atau 3,90 poin di posisi 524,21. Sepanjang perdagangan hari ini, indeks Bisnis 27 bergerak pada level 519,48-528,59.

Di Jepang, indeks Topix dan Nikkei 225 masing-masing berakhir turun 0,22% dan 0,02%.  Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,98%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing ditutup turun 0,46% dan 0,50%.

Eskalasi perang dagang AS-China serta kekhawatiran seputar kondisi keuangan di Argentina dan Turki mengikis permintaan untuk aset-aset emerging market.

Bloomberg News melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump siap memberlakukan tarif yang diusulkannya terhadap impor tambahan China senilai US$200 miliar segera setelah periode komentar publik untuk rencana tersebut berakhir pekan depan.

Melalui juru bicaranya, seperti dikutip Reuters, kementerian luar negeri China merespons kabar tersebut dan menyatakan bahwa “memberi tekanan kepada China dalam perdagangan tidak akan berhasil”.

Rupiah Tambah Loyo

Bersama IHSG, nilai tukar rupiah melemah 30 poin atau 0,20% ke level Rp14.710 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Mata uang Garuda melemah pada perdagangan hari keempat berturut-turut di tengah meningkatnya isu perang dagang.

Mata uang lainnya di Asia mayoritas ikut melemah petang ini, di antaranya won Korea Selatan yang turun 0,39% dan rupee India yang terdepresiasi 0,2%.

Pemerintah menilai sentimen utama pelemahan tersebut berasal dari pelemahan peso Argentina yang sudah tertekan lebih dari 45,3% terhadap dolar AS sejak awal 2018.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan semua negara di Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Thailand yang hampir tidak mendapat tekanan turut tertekan. Hal ini lanjutnya, diakibatkan sentimen pelemahan peso Argentina yang terus terjadi.

"Semua negara di kawasan ini mengalami [pelemahan] itu dan memang ada unsur agak surprise juga urusan Argentina ini. Dia sudah dapat bantuan dari IMF sebesar US$50 miliar, orang menganggap dia semestinya akan survive dengan itu," ungkapnya di Kantor Kemenko Perekonomian hari ini, seperti dilansir Bisnis.com.

Peristiwa di atas lanjutnya, sama dengan yang terjadi di Turki, sentimen yang muncul berdampak ke pasar tetapi tidak berdampak langsung ke perekonomian Indonesia.

Di tempat terpisah, Nanang Hendarsah, direktur eksekutif manajemen moneter di Bank Indonesia (BI) menyatakan BI akan melakukan intervensi pada pasar obligasi dan valas hari ini demi menahan dampak pelemahan peso Argentina dan lira Turki terhadap rupiah.

Meski Gubernur BI Perry Warjiyo tidak memberi isyarat tentang apakah akan menaikkan suku bunga untuk kelima kalinya tahun ini, sejumlah ekonom mengatakan gejolak pasar meningkatkan peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut, kemungkinan sebelum jadwal pertemuan kebijakan berikutnya pada 27 September.

“Kami memantau apa yang terjadi di Turki dan Argentina, tetapi kami percaya ketahanan Indonesia kuat untuk menahan kemungkinan efek meluas,” kata Warjiyo, seperti dikutip Bloomberg.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

ASII

-3,01

BBCA

-1,10

UNVR

-1,02

TLKM

-0,57

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

HMSP

+2,68

TPIA

+4,76

BBNI

+2,30

TCPI

+16,28

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top