Tensi AS-China Memanas, Rupiah Melemah

Nilai tukar rupiah melemah bersama mayoritas mata uang di Asia pada perdagangan hari ini, Kamis (30/8/2018), seiring dengan memanasnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani | 30 Agustus 2018 18:46 WIB
Petugas menata tumpukan uang rupiah. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah melemah bersama mayoritas mata uang di Asia pada perdagangan hari ini, Kamis (30/8/2018), seiring dengan memanasnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berakhir melemah 35 poin atau 0,24% di level Rp14.680 per dolar AS, setelah ditutup melemah 19 poin atau 0,13% di posisi 14.645 pada perdagangan Rabu (29/8).

Mata uang Garuda melanjutkan pelemahannya setelah dibuka terdepresiasi 13 poin atau 0,09% di posisi 14.658 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.650 – Rp14.680 per dolar AS.

Rupiah ikut memimpin pelemahan mata uang lain di Asia bersana rupee India yang terdepresiasi 0,28%. Adapun won Korea Selatan dan yen Jepang mampu menguat 0,14% dan 0,1% masing-masing.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama justru melanjutkan koreksinya sebesar 0,04% atau 0,040 poin ke level 94,560 pada pukul 17.47 WIB.

Indeks dolar dibuka turun 0,072 poin atau 0,08% di level 94,528, setelah berakhir melemah 0,13% atau 0,120 poin di posisi 94,600, akibat tertekan penguatan pound sterling.

Dilansir dari Bloomberg, mayoritas mata uang Asia tertekan memburuknya tensi perdagangan antara AS dan China. Bursa saham China pun memimpin pelemahan indeks saham di Asia hari ini.

Presiden Donald Trump menuduh China menghambat upaya AS untuk menekan Korea Utara agar menyerahkan persenjataan nuklirnya. Pada saat yang sama, terdapat kekhawatiran mengenai rencana tarif lanjutan yang menargetkan barang-barang China senilai US$200 miliar.

AS telah mengenakan tarif impor terhadap barang dari China senilai US$50 miliar sejauh ini, disusul dengan rencana tambahan tarif terhadap barang lainnya senilai US$200 miliar. China telah membalas dengan tarif yang sama, dan menjanjikan tindakan lebih lanjut.

Kecilnya harapan progres diskusi antara Amerika Serikat (AS) dan China untuk menyelesaikan tensi perdagangan yang telah memperkeruh sentimen untuk aset berisiko menambah sentimen negatif bagi rupiah dan mata uang Asia.

 “Peningkatan momentum dalam perang perdagangan AS dan China masih tetap risiko utama bagi Indonesia,” kata Enrico Tanuwidjaja, ekonom di United Overseas Bank di Jakarta, seperti dikutip Bloomberg.

“Kami tetap waspada tentang rencana tarif jauh lebih besar senilai US$200 miliar terhadap barang-barang China yang saat ini masih sedang berlangsung dinegosiasikan.”

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top