Antrean IPO Kian Panjang, Sektor Perdagangan Mendominasi

Kondisi pasar modal yang dinilai mulai berangsur pulih membuat sejumlah korporasi ingin menjadi penghuni baru Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan segera mendaftarkan rencana penawaran umum perdana.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 30 Agustus 2018  |  13:27 WIB
Antrean IPO Kian Panjang, Sektor Perdagangan Mendominasi
Daftar pipeline IPO per 29 Agustus 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Kondisi pasar modal yang dinilai mulai berangsur pulih membuat sejumlah korporasi ingin menjadi penghuni baru Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan segera mendaftarkan rencana penawaran umum perdana.

Antrean IPO diangkat sebagai topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (30/8/2018). Berikut laorannya.

Per 29 Agustus 2018, daftar antrean perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham mencapai 19 calon emiten, atau naik dari 15 perusahaan pada awal bulan ini.

“Ada tambahan empat perusahaan baru yang masuk ke daftar kami,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Nyoman Yetna di Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Keempat perusahaan itu adalah PT Kagum Jaya Sakti, PT HK Metals Utama, PT Cahayaputra Asa Keramik, dan PT Oto Trans Indo.

Adapun, PT Kagum Jaya Sakti bergerak di sektor properti, sedangkan PT HK Metals Utama bergerak di sektor perdagangan, jasa, pembangunan, dan industri khususnya barang metal, baja, dan holo besi. Sementara itu, PT Oto Trans Indo merupakan perusahaan yang bergerak di sektor pengangkutan, perdagangan, dan jasa.

Menurut Nyoman Yetna, Kagum Jaya Sakti akan menggunakan laporan keuangan per Oktober 2017, sedangkan HK Metals Utama menggunakan laporan kinerja keuangan per Maret 2018. Kemudian, dua perusahaan lainnya akan menggunakan laporan keuangan yang berakhir pada Mei 2018.

“Dari perusahaan itu beberapa sudah melakukan mini expose ke kami. Namun, ada yang belum dan dijadwalkan pekan ini akan dilaksanakan,” tutur Nyoman.

Salah satu perusahaan yang baru saja melakukan mini expose adalah PT Cahayaputra Asa Keramik. Perseroan akan melepas 25% saham kepada publik lewat IPO. Penawaran umum dijadwalkan pada September 2018.

Direktur PT Cahayaputra Asa Keramik Johan Silitonga mengatakan bahwa perseroan membutuhkan dana besar untuk pembayaran utang. Rencananya, 50% dari dana yang diperoleh akan digunakan untuk refinancing.

“Nilai yang kami incar masih dalam proses penghitungan,” katanya, di Gedung BEI Jakarta, Rabu (29/8).

Saat ini, perusahaan yang memproduksi keramik itu memiliki satu pabrik yang terletak di kawasan Karawang Timur, dengan kapasitas produksi mencapai 9,18 juta unit per tahun, dan tingkat utilisasi sebesar 88%.

Selain untuk pendanaan, IPO ini dilakukan dalam rangka memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat. Johan meyakini, dengan melakukan IPO maka perusahaan akan mudah dikenal sehingga berdampak pada penjualan.

SEKTOR PERDAGANGAN

Sepanjang tahun berjalan 2018, total perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di pasar modal mencapai 33 perusahaan. Dengan demikian, perusahaan yang akan menjadi pendatang baru lantai bursa mencapai 52 perusahaan, dengan catatan perusahaan yang masuk dalam pipeline merealisasikan targetnya.

“Perusahaan-perusahaan itu telah berkomitmen dan kami yakin proses IPO akan dilakukan pada tahun ini,” ujar Nyoman.

Dari keseluruhan perusahaan yang listing tahun ini, perusahaan di sektor perdagangan, jasa dan investasi cukup mendominasi.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat, sektor tersebut menyumbang 36,4%. Sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi berada pada urutan kedua dengan 24,2%. Disusul sektor finansial serta properti dan realestat dengan porsi 9,1%.

Sektor agrikultur, industri dasar dan kimia, serta industri aneka berada di urutan keempat, masing-masing sebesar 6,0%. Sektor pertambangan menyumbang 3,0%.

Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas emiten baru 2018 mencatatkan kinerja saham yang memuaskan. Dari 33 emiten baru, sebanyak 23 perusahaan mencatatkan kinerja saham yang positif. Bahkan, 13 di antaranya mencatatkan pertumbuhan harga saham di atas 100%.

Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan bahwa banyaknya perusahaan yang antre masuk pasar modal merupakan dampak langsung dari pemulihan pasar.

Dalam beberapa pekan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) bangkit setelah terpuruk selama beberapa bulan. Saat ini, IHSG sudah kembali ke level psikologis 6.000. Pada Rabu (29/8), IHSG ditutup menguat 22,50 poin atau 0,37% ke level 6.065,15

“Saat ini struktur ekonomi kita bagus, jadi minat IPO kembali tinggi,” katanya saat dihubungi, Rabu (29/8/2018).

Dia menambahkan, pada paruh kedua tahun ini sebenarnya kondisi pasar masih cukup tertekan. Salah satunya karena adanya krisis di Turki beberapa waktu lalu. Namun, tekanan itu tak berdampak lama ke pasar modal.

Menurutnya, kondisi di dalam negeri yang cukup positif membangkitkan kembali kepercayaan diri pasar. Upaya pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menjaga inflasi, serta kebijakan anggaran yang tercermin dalam APBN mampu memberikan sentimen positif.

Selain karena kebutuhan dana, menurut Wisnu, perusahaan yang tercatat di BEI memiliki nilai tambah dan lebih dikenal karena mendapat sorotan publik. Bahkan, kata dia, tidak sedikit perusahaan yang secara keuangan sangat bagus, tetapi memutuskan untuk IPO dengan alasan untuk meningkatkan nilai tambah.

“Ada beberapa perusahaan saat IPO rasio utangnya kecil. Dia IPO untuk membuktikan kemampuan dan kebutuhan branding.”

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Muhamad Alfatih menambahkan, besarnya minat IPO disebabkan oleh keberhasilan pelaku pasar melakukan sosialisasi ke perusahaan. Selain itu, agenda politik juga menjadi faktor. Tahun depan, Indonesia menggelar agenda politik lima tahunan yakni pemilihan presiden. Mayoritas pelaku pasar khawatir agenda itu akan berdampak di pasar modal.

Alhasil, banyak perusahaan memilih untuk melakukan IPO sebelum tahun politik atau menunda sampai 2020, setelah proses politik dan pemerintahan mulai efektif. “Tidak bisa dipungkiri kemungkinan itu ada,” tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup