Cadangan Minyak AS Diprediksi Naik, Harga Minyak Tergelincir Tipis

Harga minyak tergelincir karena laporan cadangan minyak AS yang diperkirakan mengalami kenaikan dan ada harapan penurunan produksi di Venezuela bisa tertahan.
Mutiara Nabila | 29 Agustus 2018 17:51 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak tergelincir karena laporan cadangan minyak AS yang diperkirakan mengalami kenaikan dan ada harapan penurunan produksi di Venezuela bisa tertahan.

Pada perdagangan Rabu (29/8), harga minyak Brent tergelincir tipis 0,18 poin atau 0,24% menjadi US$75,77 per barel dan naik 13,31% selama tahun berjalan.

Adapun, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) turun 0,07 poin atau 0,10% menjadi US$68,46 per barel dari posisi pada sesi perdagangan sebelumnya dengan kenaikan secara year-to-date (ytd) menyamai minyak Brent sebesar 13,31%.

Di Amerika Serikat, berdasarkan laporan American Petroleum Institute (API), cadangan minyaknya diperkirakan mengalami kenaikan hingga 38.000 barel menjadi 405,7 juta barel pada pekan 24 Agutus.

“API melaporkan angka yang cenderung datar membuat pasar memperkirakan adanya penurunan wajar pada harga minyak mentah dan kenaikan produksi,” ungkap Sukrit Vijayakar, Direktur Trifekta, perusahaan konsultan perminyakan, dikutip dari Reuters, Rabu (29/8/2018).

Data resmi cadangan minyak mentah dan bahan bakar AS akan diumumkan pada Rabu (29/8) malam waktu AS oleh Energy Information Administration (EIA) AS.

Sejumlah pedagang mengatakan bahwa laporan investasi potensial ke produksi minyak dari Venezuela, yang kesulitan dalam meningkatkan produksinya, juga memberikan dampak bagi pasar.

Eskpor minyak mentah dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang terkena krisis turun hingga setengahnya sejak 2016 ke bawah 1 juta barel per hari.

Untuk mengimbangi kemerosotan produksi, perusahaan minyak milik negara Venezuela PDVSA melaporkan bahwa pihaknya telah menandatangani kesepakatan investasi sebesar US$430 juta untuk membantu Venezuela meningkatkan produksi hingga 640.000 barel per hari di 14 ladang minyak.

Meskipun ada risiko gangguan terutama dari negara-negara anggota OPEC seperti Venezuela, Iran, Libya, dan Nigeria, salah satu bank asal Amerika Merrill Lynch memprediksi bahwa pasokan minyak global akan kembali merangkak naik pada akhir tahun.

“Menuju kuartal IV/2018, kami memperkirakan produksi minyak dari negara non-OPEC akan meningkat dengan kebijakan pembatasan pasokan mereda dan proyek greenfield meluas,” ujar sejumlah analis Merrill Lynch dalam laporan resminya.

Saat ini, anggota non-OPEC telah menahan produksi minyak tertinggi selama 15 bulan hingga 730.000 barel per hari. Namun, setengah dari volume tersebut kini sedang dalam proses agar bisa kembali masuk kedalam cadangan minyak global.

Selain itu, akan ada produksi baru dari Kanada, Brasil, dan AS, yang diperkirakan dapat menyediakan dorongan yang cukup besar untuk menambah pasokan dari non-OPEC selama semester II/2018 dan bisa menahan kenaikan harga minyak Brent.

Bank of America memproyeksikan harga minyak Brent akan berada di kirasan US$65 – US$80 per barel hingga sanksi Iran mulai memberikan dampak pada semester I/2019.

Meskipun ada prospek kenaikan pasokan, sejumlah trader mengatakan bahwa pasar minyak mentah akan tetap mengetat, sebagian besar karena prospek sanksi AS ke Iran, yang akan mulai menargetkan industri minyak Iran mulai awal November.

Oleh karena didesak oleh pihak Washington, sejumlah pembeli minyak mentah sudah mulai mengurangi pembelian dan pemesanan minyak dari anggota terbesar ketiga OPEC itu.

Meskipun Teheran menawarkan diskon yang cukup besar, minyak mentah dan kondensasi Iran untuk pengiriman Agustus diperkirakan hanya mencapai 2,06 juta barel per hari, dibandingkan dengan jumlah puncaknya pada April lalu sebesar 3,09 juta barel per hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, komoditas

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top