Perdagangan Minyak Mentah Global Mulai Terpengaruh Pasokan Iran

Struktur pasar berjangka untuk harga patokan minyak global disinyalir semakin mengkhawatirkan gangguan ekspor Iran setelah sanksi AS kepada salah satu produsen OPEC itu.
Mutiara Nabila | 29 Agustus 2018 17:31 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Struktur pasar berjangka untuk harga patokan minyak global disinyalir semakin mengkhawatirkan gangguan ekspor Iran setelah sanksi AS kepada salah satu produsen OPEC itu.

Perdagangan berjangka di London untuk pengiriman November, ketika sanksi dari Amerika Serikat mulai berlaku, diperdagangkan dengan harga lebih tinggi dibandingkan dengan kontrak untuk sebulan ke depan.

Struktur pasar, yang semakin mengalami kemunduran, merefleksikan ketakutan akan penyusutan pasokan.

Sementara itu, premium Brent terhadap harga minyak New York semakin melebar karena produksi minyak AS tertekan oleh hambatan infrastruktur dan spekulasi bahwa Presiden AS Donald Trump akan terus mendesak penurunan harga bahan bakar.

“Dengan risiko pasokan dari OPEC [Organisasi Negara Pengekspor Minyak] termasuk Iran yang mengangkat harga minyak Brent, Trump secara bertahap menahan kenaikan harga minyak WTI [West Texas Intermediate] agar tidak terus naik, membuat kesenjangan harga WTI dan Brent melebar,” ujar Kim Kwangrae, analis komoditas Samsung Futures Inc., dilansir dari Bloomberg, Rabu (29/8/2018).

Dalam jangka panjang, Kim menegaskan bahwa WTI dan Brent akan semakin mengalami kemunduran karena kekhawatiran keterbatasan hasil produksi Iran karena terkena sanksi dari AS.

Sebagian besar konsumen Iran sudah mengalami kesulitan untuk melakukan pembelian dari Persian Gulf bahkan sebelum sanksi AS pada sektor minyak Iran berlaku pada 4 November mendatang.

Ketidakpastian terus menjulang terkait dengan kemampuan anggota OPEC lain dalam memompa lebih banyak minyak untuk mengisi kesejangan pasokan.

Sementara itu, AS belum memberikan keterangan apakah pihaknya akan memberikan keringanan untuk para pembeli yang terancam tidak lagi terhubung dalam sistem finansial AS.

Dengan risiko pasokan membayangi untuk jangka panjang, harga jangka pendek semakin berfluktuasi karena jumlah persediaan minyak AS yang naik-turun. Harga minyak AS untuk kontrak Oktober hanya bergerak sedikit pada perdagangan Rabu (29/8) mengikuti laporan industri yang memberikan sinyal akan ada kenaikan pasokan secara mengejutkan.

Pada perdagangan Rabu (29/8), harga minyak Brent merosot tipis 0,18 poin atau 0,24% menjadi US$75,77 per barel dan naik 13,31% selama tahun berjalan.

Adapun, harga minyak WTI 0,07 poin atau 0,10% menjadi US$68,46 per barel dari posisi pada sesi perdagangan sebelumnya dengan kenaikan secara year-to-date (ytd) menyamai minyak Brent sebesar 13,31%.

Total volume yang diperdagangkan jauh hanya 71% di bawah rata-rata 100 hari. Harga minyak mentah AS terdiskon terhadap Brent sebesar US$7,31 per barel, terbesar dalam dua bulan terakhir.

“Pelepasan cadangan minyak mentah strategis Trump dan haknya untuk menegluarkan tambahan 20 juta barel minyak mentah dalam keadaan darurat membuat harga minyak kesulitan untuk naik,” lanjut Kim.

Data dari American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa cadangan minyak AS melebar hingga 38.000 barel pada pekan lalu, dibarengi dengan pasokan gasoline dan minyak sulingannya uang juga meningkat.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan ramalan penurunan pasolan hingga 1,49 juta barel dari sejumlah analis yang disurvei oleh Bloomberg sebelum data resmi dari pemerintah dirilis.

Tag : komoditas, harga minyak mentah wti
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top