Dolar AS Melemah, Harga Minyak Naik

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berakhir menguat di level tertingginya dalam hampir tiga pekan pada perdagangan Senin (27/8/2018), sebagian besar didorong pergerakan mata uang AS.
Renat Sofie Andriani | 28 Agustus 2018 06:14 WIB
Minyak West Texas Intermediate - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berakhir menguat di level tertingginya dalam hampir tiga pekan pada perdagangan Senin (27/8/2018), sebagian besar didorong pergerakan mata uang AS.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik 0,2% atau 15 sen dan ditutup di US$68,87 per barel di New York Mercantile Exchange, level tertinggi sejak 7 Agustus.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober ditutup naik 39 sen di level US$76,21 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, level tertinggi sejak awal Juli. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$7,34 terhadap WTI, rentang terlebar sejak Juni.

Dilansir dari Bloomberg, perdagangan kontrak berjangka minyak Amerika hampir 60% di bawah normal, sebagian karena libur nasional di Inggris.

“London ditutup, Anda memiliki situasi akhir musim panas di mana likuiditas benar-benar tidak ada," kata Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities USA LLC.

Namun, terkikisnya penguatan greenback mengangkat harga komoditas yang bernilai dalam dolar AS. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,5%, pelemahan untuk sesi perdagangan kedua.

Di sisi lain, di AS, para penyuling dapat mengurangi pembelian minyak mentah karena menyurutnya musim mengemudi di musim panas memberi kesempatan mengosongkan sejumlah peralatan dan pengilangan untuk proses perawatan.

Harga minyak mentah AS rata-rata bergerak sekitar level US$67 per barel bulan ini saat tensi perdagangan antara China dan AS mengancam pertumbuhan ekonomi yang mendorong permintaan energi. Pada saat yang sama, sanksi Amerika terhadap Iran diperkirakan akan mengempiskan aliran keluar mentah dari produsen no.3 OPEC tersebut.

Sementara itu, tingkat kepatuhan pembatasan suplai oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansinya mencapai 109% pada bulan Juli, menurut sumber terkait.

Komite pengawas utama dikatakan telah memutuskan untuk terlibat dalam lebih banyak konsultasi selama pekan kedua September untuk membahas bagaimana peningkatan pasokan akan terbagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top