Ini Saham-saham Tambang Pilihan Analis

Indeks Pertambangan (JAKMINE) memimpin penguatan di antara indeks sektoral lainnya dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan peningkatan harga komoditas dan potensi perbaikan kinerja emiten dari ekspor.
Hafiyyan | 27 Agustus 2018 11:43 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Pertambangan (JAKMINE) memimpin penguatan di antara indeks sektoral lainnya dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan peningkatan harga komoditas dan potensi perbaikan kinerja emiten dari ekspor.

Ada sembilan sektor emiten yang membentuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara year-to-date (ytd) per Jumat (24/8/2018), hanya tiga indeks sektoral yang menghijau, yakni pertambangan sebesar 24,46%, industri dasar dan kimia sebesar 20,2%), dan agrikultur sebesar 1,07%.

Adapun enam sektor lainnya cenderung melempem seiring dengan melesunya IHSG. Akhir pekan lalu, IHSG turun 14,23 poin atau 0,24% menjadi 5.968,75.

Indeks JAKMINE juga terkoreksi 0,98 poin atau 0,05% menjadi 1.983,88 pada penutupan perdagangan Jumat (24/8). Lalu, saham tambang apa saja yang direkomendasikan untuk diperdagangkan?  

Analis RHB Sekuritas Hariyanto Wijaya mengatakan dua saham sektor pertambangan pilihan utamanya adalah PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).

Kinerja ADRO memang cenderung tertekan pada semester I/2018 karena ada kendala operasional akibat hujan deras sampai April 2018.

Dalam laporan keuangan per Juni 2018, perseroan mencatatkan pendapatan usaha sejumlah US$1,61 miliar, naik 3,94% year-on-year (yoy) dari sebelumnya US$1,55 miliar. Laba bersih menurun 12,14% yoy menjadi US$195,38 juta dari semester I/2017 yang senilai US$222,39 juta.

Dari sisi operasional, volume produksi pada semester I/2018 turun 4% yoy menjadi 24,06 juta ton, sedangkan penjualan melesu 6% menjadi 23,8 juta ton. Melambatnya kinerja disebabkan faktor cuaca yang cenderung basah.

Manajemen ADRO memperkirakan volume produksi dan penjualan akan meningkat pada semester II/2018 seiring dengan dukungan cuaca yang lebih baik. Perusahaan pun mempertahankan panduan produksi di kisaran 54 juta-56 juta ton.

“Mulai Mei 2018, cuaca berangsur normal. ADRO akan menggenjot produksinya, sehingga mencapai target,” ujar Hariyanto kepada Bisnis, Jumat (24/8).

Selain itu, sambungnya, operasional ADRO ditangani oleh tiga perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia, yakni PT Pamapersada Nusantara (PAMA), PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dan anak usaha ADRO, PT Saptaindra Sejati (SIS).

Hariyanto pun merekomendasikan beli terhadap saham ADRO dengan target harga Rp2.600 sampai Juni 2019. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, saham ini turun 30 poin atau 1,55% menjadi Rp1.910.

Adapun target harga saham UNTR adalah Rp47.600 hingga Juni 2019. Akhir pekan lalu, saham anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII) ini turun 800 poin atau 2,29% menjadi Rp34.200.

RHB Sekuritas menyampaikan di samping faktor bullish sektor batu bara, UNTR berpotensi mendulang pendapatan baru dari akuisisi tambang emas Martabe, Sumatra Utara. Proses akuisisi ditargetkan rampung pada kuartal IV/2018.

Sejumlah saham tambang lain yang menarik yakni PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID) dengan target harga Rp1.400, PT Indo Tambang Raya Megah Tbk. (ITMG) Rp33.600, dan PT Harum Energy Tbk. (HRUM) Rp3.400. Kemudian di sektor alat berat ada PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (HEXA) dengan target harga Rp4.200.

Sementara itu, analis Ciptadana Sekuritas Asia Christian Saortua menjagokan dua saham anak usaha PT Inalum (Persero), yakni PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM). Target harga masing-masing perusahaan adalah Rp5.200 dan Rp1.130.

Sejumlah saham tambang lainnya yang dipandang menarik yaitu HRUM dengan target harga Rp3.400, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Rp4.800, dan ADRO Rp2.475.

Analis senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan juga menjagokan PTBA dan ANTM sebagai saham tambang pilihan utama. Target harga masing-masing adalah Rp5.000 dan Rp1.400.

Kinerja PTBA didorong oleh kejelasan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 25%. Regulasi ini justru menguntungkan perusahaan karena dapat memperbesar penjualan ke pasar ekspor.

“Perusahaan juga sudah mulai mengembangkan lagi produksi batu bara premium berkalori tinggi,” ujarnya.

Adapun kinerja ANTM terdorong oleh strategi perusahaan yang memacu penjualan tiga logam andalannya, yakni emas, nikel, dan bauksit.

Di sisi hulu, perusahaan sudah mendapat tambahan kuota ekspor bijh nikel. ANTM juga diuntungkan rencana ekspansi Chemical Grade Alumina (CGA) di PT Indonesia Chemical Alumina (ICA).

Andy menyebutkan dua saham tambang lainnya yang menarik adalah ITMG dengan target harga Rp39.100 dan ADRO dengan harga 2.880.

Tag : rekomendasi saham, emiten tambang
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top