Permintaan Sukuk Negara Capai Rp10,9 Triliun

Minat investor dalam lelang surat berharga syariah negara atau sukuk negara pada Selasa (7/8/2018) kembali meningkat, menyusul peningkatan yang terjadi pada lelang surat utang negara pekan lalu.
Emanuel B. Caesario | 07 Agustus 2018 19:59 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Minat investor dalam lelang surat berharga syariah negara atau sukuk negara pada Selasa (7/8/2018) kembali meningkat, menyusul peningkatan yang terjadi pada lelang surat utang negara pekan lalu.

Berdasarkan pengumuman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total penawaran investor dalam lelang sukuk kali ini mencapai Rp10,9 triliun. 

Tiga lelang sukuk terakhir sejak Juli hingga awal Agustus ini menujukkan peningkatan yang signifikan setelah lelang terus melemah sejak 3 April 2018 lalu. Penawaran tiga lelang terakhir nilainya masing-masing Rp12,5 triliun, Rp9,5 triliun, dan Rp10,9 triliun.

Pemerintah melepas 6 seri dalam lelang kali ini, yakni Surat Perbendaharaan Negara-Syariah (SPN-S) 6 bulan, SPN-S 9 bulan, Project Based Sukuk (PBS) PBS016 tenor 2 tahun, PBS002 tenor 4 tahun, PBS012 tenor 13 tahun, dan PBS015 tenor 29 tahun.

Penawaran tertinggi masuk pada seri-seri tenor terpendek, berturut-turut SPN 6 bulan Rp3,6 triliun, SPN 9 bulan Rp2,76 triliun, dan PBS016 Rp2,2 triliun. Tiga seri lainnya masing-masing PBS002 Rp933 miliar, PBS012 Rp928 miliar, dan PBS015 Rp492 miliar.

Pemerintah memenangkan Rp5,17 triliun dalam lelang kali ini, tertinggi sejak akhir April 2018. Pemerintah menyerap hingga melewati targetnya Rp4 triliun, sehingga tingkat yield yang dimenangkan pun cenderung tinggi sebagai gimmick.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa tren penawaran investor dalam lelang pemerintah sejak akhir Juli terus menunjukkan peningkatan.

Menurutnya, rasa percaya diri pasar selama ini cenderung terus meningkat sebab secara umum nilai tukar dollar terhadap mata uang dunia relatif stabil, sedangkan sentimen perang dagang mulai disikapi dengan lebih tenang oleh investor. Ini mendorong investor kembali ke pasar emerging market.

Namun, upaya pemerintah untuk menyerap banyak penawaran untuk memenuhi kebutuhan pendanaannya menyebabkan tingkat yield yang dimenangkan menjadi cenderung tinggi dan merugikan pasar sekunder.

Padahal, sejauh ini di pasar sekunder juga belum ada sentimen yang cukup kuat untuk menaikan harga atau menurunkan yield.

“Potensi kenaikan di sekunder juga menjadi terbatas karena investor menilai buat apa kejar di sekunder untuk dapat barangnya kalau nanti di primer bisa dapat barang dengan yield bagus dari pemerintah,” katanya, Selasa (7/8/2018).

Ramdhan Ario Maruto, Associeate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa tingginya penawaran dalam lelang-lelang terakhir, termasuk lelang sukuk kali ini, menunjukkan bahwa likudiitas investor Indonesia sebenarnya masih sangat tinggi.

Hanya saja, kekhawatiran pasar terhadap gejolak eksternal yang menahan laju investasi selama ini. Dirinya sepakat bahwa di pasar sekunder, pergerakan pasar belum terlalu atraktif, sehingga investor justru cenderung masuk di pasar primer.

“Karena memang potensi-potensi pelemahan masih terbuka, pasar kita masih rentan sekarang ini, apalagi rupiah juga masih berat untuk bisa menguat dengan banyaknya sentimen eksternal,” katanya.

Dari sisi internal, kinerja ekonomi juga masih bagus, tetapi belum cukup kuat untuk mampu mengimbangi tekanan ekternal. Alhasil, exposure terhadap faktor eksternal masih lebih mendominasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top